𝐑𝐞𝐩𝐨𝐫𝐭𝐞𝐫𝐋𝐞𝐠𝐞𝐧𝐝.𝐜𝐨𝐦 | 𝐒𝐨𝐬𝐨𝐤 - Jurnalisme bukanlah pekerjaan untuk orang yang lemah hati atau pencari uang. Namun juga tidak sulit untuk menemukan jurnalis yang berani dan bersemangat.
Banyak Jurnalis atau Wartawan para pekerja pers baik cetak, elektronik dan online, mereka telah mendedikasikan seluruh hidup tanpa henti mengungkap korupsi, melaporkan perang, dan mengungkap skandal politik dan ekonomi.
Wartawan
Kata wartawan terbentuk dari kata 'warta' yang berarti berita, sehingga wartawan juga disebut juru warta.
Sedangkan menurut Pasal 1 ayat (4) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, wartawan adalah orang yang secara teratur melaksanakan kegiatan jurnalistik.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, wartawan adalah orang yang pekerjaannya mencari dan menyusun berita untuk dimuat dalam surat kabar atau koran, majalah, radio, televisi hingga internet di era sekarang.
Dalam melaksanakan pekerjaannya itu, profesi wartawan dapat mencapai beragam prestasi, baik secara nasional maupun internasional.
Wartawan yang sudah membuat prestasinya di kancah internasional, akan menjadi sangat terkenal di dunia.
Sejumlah wartawan terkenal tercatat dalam sejarah karena kegigihan dan ke uletan mereka dalam mencari, mendapatkan, dan menggali suatu informasi penting, untuk disampaikan ke khalayak umum. Mereka bekerja keras dan tidak kenal putus asa walaupun kesulitan menghadang mereka, sekalipun itu menyangkut nyawa mereka.
Jurnalis Perempuan
![]() |
| Rosamund Pike memerankan Marie Colvin seorang jurnalis perempuan yang kisahnya diceritakan pada film A Private War [Photo:IMDB] |
Padahal sangat banyak jurnalis perempuan yang berkontribusi terhadap perkembangan dunia jurnalistik di seluruh dunia. Usaha mereka untuk membantu kelompok minoritas dan memperjuangkan kebebasan berpendapat dapat kita telusuri jejaknya dari abad ke abad.
Namun dalam dunia jurnalistik yang patriarkal sejak awal perkembangannya, perempuan mesti berusaha keras untuk mencari ruang agar bisa bersuara dan didengar. Sering kali, mereka yang memperoleh posisi strategis di bidang jurnalistik mendapatkan perlawanan keras, pelecehan, hingga penindasan.
Para jurnalis perempuan pun kadang dipandang tidak cukup mampu untuk meliput berita-berita “berat” seperti politik dan perang.
Namun, setelah melalui perjuangan di berbagai belahan dunia, perlahan jurnalis perempuan membuktikan bahwa peran mereka terlalu besar dan penting untuk dikucilkan.
Berikut sejumlah Sosok Jurnalis, Wartawan, Reporter Legend baik pria dan wanita yang tercatat dalam sejarah dunia dari masa ke masa.
1. Anne-Marguerite Petit du Noyer (Perancis, 2 Juni 1663 – May 1719)
Anne-Marguerite Petit du Noyer, Perempuan asal Perancis ini merupakan salah satu jurnalis perempuan tersohor pada abad ke-18.
Berbeda dari kebanyakan jurnalis perempuan lainnya pada masa itu, du Noyer tidak berasal dari sektor percetakan.
Ia mulai menulis dalam surat kabar mingguan Quintessence of News mengenai Perjanjian Utrecht antara Inggris dan Spanyol (1713-1715) yang mengakhiri perang Spanyol. Hasil laporannya sangat diapresiasi dan sejak itu, ia dikenal oleh masyarakat umum.
Sosok dan sepak terjang du Noyer yang terukir dalam sejarah menjadi faktor yang sangat berpengaruh bagi perempuan lainnya dalam menulis tentang kontroversi-kontroversi penting di sekitar mereka.
Laporan yang mereka kirim ke surat kabar pada tahun-tahun berikutnya tidak lepas dari semangat du Noyer dalam mengungkap skandal yang patut untuk diketahui masyarakat setempat.
Lahir dalam keluarga Protestan du Noyer menjadi seorang Katolik ketika kaum Huguenots (Protestan) dipersekusi. Namun, pada akhirnya ia kembali menjadi seorang Protestan dan diusir dari Perancis karena hal tersebut dan meninggal di Belanda.
2. William Howard Russell (Irlandia, 28 Maret 1820 - 10 Februari 1907)
William Howard Russell adalah reporter perang pertama yang berdedikasi dalam sejarah.
The Times of London mengirim Russell untuk meliput Perang Krimea, sebuah perang besar tahun 1854-1855, antara Rusia, Inggris, Prancis yang membunuh hampir satu juta orang.
Russell dikenal sebagai orang Irlandia yang keras kepala dan susah diatur. Sehingga selama bertugas Russell malah mabuk-mabukkan dan melakukan hal yang tidak diharapkan.
Namun demikian William Howard Russell terkenal sebagai pelopor jurnalisme perang modern, terutama melalui laporannya untuk The Times selama Perang Krimea.
Ada satu hal yang dilakukan oleh Russell dan mampu mengubah wilayah tersebut.
Ia menulis banyak nyawa yang berjatuhan di sana. Jasad para prajurit perang dan orang biasa bergeletakan dan tak diurus sama sekali.
Tak hanya menggambarkan kondisi Krimea yang dipenuhi lautan jasad, tetapi Russell juga menggambarkan banyak warga sakit bahkan sekarat yang terbengkalai.
Tulisan ini banyak dibaca oleh orang dan menimbulkan rasa prihatin yang mendalam. Para tentara perang sangat membenci laporan ini. Pada satu momen, tentara mencoba menakut-nakuti Russell agar pergi dari wilayah tersebut.
Namun bukan jurnalis tangguh kalau Russell harus menyerah begitu saja. Ia tetap tinggal dan melanjutkan laporan-laporannya.
Banyak reaksi publik yang menuntut para tentara Inggris untuk membangun rumah sakit dan mengobati orang-orang luka. Mulai dari laporannyalah sebuah rumah sakit di Krimea mulai dibangun.
William Howard Russell meninggal di London, Inggris tahun 1907.
3.Maria Ilnicka (Polandia, 1825–1897)
![]() |
| Maria Ilnicka. [doc. wikimedia.org] |
Ia dikenal karena partisipasinya dalam pemberontakan melawan Kekaisaran Rusia yang menduduki negaranya pada awal 1860an.
Maria Ilnicka bertindak sebagai juru arsip Polish National Government selama Pemberontakan Januari yang dilakukan Polandia pada tahun 1863.
Dua tahun kemudian, ia menjadi pemimpin redaksi jurnal mingguan untuk perempuan bernama Bluszczu.
Pada tahun 1867, ia tercatat mengungkapkan pandangan skeptis mengenai emansipasi. Ia dikenal sebagai sosok yang mendukung pendidikan untuk seluruh rakyat.
Setelah dirinya, jurnalis-jurnalis perempuan lain bermunculan dan meneruskan perjuangannya tersebut hingga saat ini.
4. Hani Motoko (Jepang, 1873-1957)
Hani Motoko adalah jurnalis perempuan pertama di Jepang dan juga pelopor pengembangan pendidikan untuk perempuan negata itu. Kariernya berlangsung selama lebih dari setengah abad, dari akhir masa Kekaisaran Meiji hingga pertengahan abad ke-20.
Motoko meniti karier dari penyunting naskah hingga reporter dan penulis editorial Hochi Shinbun pada tahun 1897, di saat surat kabar lain hanya membolehkan perempuan menulis perihal rumah tangga.
Pendidikan untuk perempuan masih merupakan subjek kontroversial pada Zaman Meiji.
Pandangan pemerintahan terhadap perempuan pada masa itu dinyatakan dalam slogan “istri yang baik, ibu yang bijak”. Edukasi yang diperoleh perempuan hanya terbatas dalam aspek “kewanitaan” dan persiapan untuk menikah, berbeda dengan laki-laki yang dipersiapkan untuk menjadi pemimpin dan kepala rumah tangga.
Melihat sekolah negeri terus mengajarkan perempuan untuk menjadi sosok yang tunduk dan patuh, Motoko bersama sejumlah pendidik lain pun mendirikan Jiyu Gakuen, sebuahsekolah khusus perempuan.
Di sekolah tersebut, Hani Motoko dan kawan-kawan mengajarkan individualisme bagi perempuan dan mempersiapkan mereka untuk menjadi pengurus finansial dalam keluarga. Nilai kebebasan, harga diri, dan kemerdekaan terus digaungkan Motoko di sepanjang kariernya sebagai jurnalis dan pengajar.
5. Jovita Idár (Meksiko AS, 7 September 1885-15 Juni 1946)
Jovita Idár adalah jurnalis Meksiko-Amerika yang dikenal karena jerih payahnya dalam melindungi hak-hak kaum minoritas.
Jovita Idár lahir di Laredo, Texas, Idár mulai meniti karier di surat kabar milik ayahnya, La Crónica, yang mengecam dan melawan penganiayaan terhadap orang Meksiko-Amerika.
Ia kerap menulis tentang rasisme di Meksiko dan turut mendukung revolusi yang mulai berkembang di sana. Idár juga menjadi presiden organisasi perempuan Meksiko bernama La Liga Femenil Mexicanista yang menawarkan pendidikan gratis kepada anak-anak Meksiko.
![]() |
| Idár pada tahun 1914 di mesin cetak surat kabar El Progreso di Laredo, Texas. [Photo: Koleksi Khusus Perpustakaan UTSA] |
Selama berlangsungnya Revolusi Meksiko pada tahun 1913, ia pergi ke Meksiko untuk merawat korban luka-luka. Tetapi, Idár kembali ke AS pada tahun berikutnya untuk mengambil alih La Crónica dan terus berkampanye mengangkat isu kehidupan kaum Meksiko-Amerika yang buruk.
Idár pun tidak henti-hentinya mengadvokasikan hak-hak perempuan, terutama ketika ia menduduki posisi dalam Partai Demokrat di Texas.
Pada tahun 2023, kontribusi Jovita Idár diabadikan dalam program American Women Quarters sebagai wajah pada koin 25 sen AS.
6. Henrietta Eleanor Goodnough Deuell a.k.a Peggy Hull (AS, 30 Desember 1889 - 19 Juni 1967)
![]() |
| Henrietta Eleanor Goodnough Deuell a.k.a Peggy Hull [Photo doc.: KU Libraries Digital Collections] |
Henrietta Eleanor Goodnough Deuell, yang lebih dikenal dengan nama pena Peggy Hull, adalah jurnalis perempuan pertama yang diakreditasi secara resmi oleh Departemen Perang Amerika Serikat.
Ia mulai bekerja untuk Junction City Sentinel pada tahun 1905 dan mulai menggunakan nama Peggy Hull antara tahun 1909-1916.
Hull menulis di berbagai surat kabar, seperti Honolulu Star di Hawaii, Cleveland Plain Dealer di Ohio, atau Junction City Daily di Kansas, tempat ia tumbuh besar.
Namun, seiring berjalannya waktu, ia mulai memasuki ranah berita militer. Ia terjun meliput Perang Dunia I dan II. Dalam meliput kedua perang tersebut, Hull melintasi berbagai kontinen dan negara dari Perancis hingga Siberia.
Kariernya sebagai jurnalis perang dan tulisan yang ia hasilkan lantas membuatnya memperoleh penghargaan Angkatan Laut Amerika Serikat. Kesuksesannya pun menunjukkan bahwa perempuan mampu meliput topik peperangan yang sering dianggap tidak layak bagi mereka.
7. Minna Lewinson (Amerika Serikat, 20 August 1875 - 1942)
Minna Lewinson adalah jurnalis perempuan pertama yang memenangi Penghargaan Pulitzer, sebuah penghargaan bergengsi tertinggi di Amerika Serikat yang diberikan setiap tahun (sejak 1917) untuk pencapaian luar biasa dalam bidang jurnalisme, sastra, drama, dan musik.
Minna Lewinson tumbuh dan besar di New York City, Minna Lewinson mengenyam pendidikan jurnalisme di Barnard College, Columbia University. Dari situ, ia bekerja sebagai reporter di berbagai publikasi seperti Daily Investment News dan Women’s Wear Daily.
Lewinson merupakan jurnalis perempuan pertama yang direkrut oleh The Wall Street Journal pada tahun 1918.
Lewinson adalah jurnalis perempuan pertama yang memenangi Penghargaan Pulitzer untuk jurnalisme pada tahun 1918, bersama Henry Beetle Hough. Penghargaan tersebut mereka terima setelah menulis sejarah surat kabar.
Lewinson pun menjadi pembuka gerbang untuk jurnalis-jurnalis perempuan selanjutnya untuk memenangi penghargaan ini. Meski begitu, kategori sejarah surat kabar hanya pernah diberikan kepada Lewinson dan sejak itu tidak pernah ada lagi.
Suaminya, Louis Lewinsohn, meninggal pada 31 Januari 1934. Mereka memiliki tiga anak: Viktor, Cilla, dan Ruth. Minna tinggal di Berlin selama bertahun-tahun di Flensburger Straße 11.
Ia dideportasi dari sana ke Riga, Latvia, pada 13 Januari 1942 dan dibunuh di sana.
8. Munira Thabit (Mesir, 1902–1967)
Munira Thabit adalah perempuan asal Mesir dan merupakan salah satu jurnalis perempuan yang merintis perjuangan meraih kesetaraan gender.
Thabit mengawali kariernya sebagai pengacara di Mesir dan menjadi perempuan pertama di ranah tersebut.
Namun, karena banyaknya halangan terhadap partisipasi perempuan di ranah pengadilan Mesir, ia berpindah haluan ke jurnalisme. Ia menerbitkan surat kabar mingguan bernama al-Amal pada tahun 1926 dengan slogan “Surat Kabar yang Melindungi Hak Politik Perempuan”.
Meskipun ia mendapat perlawanan dari para tokoh agama dan aparat pemerintah, Thabit tidak berhenti dan terus menulis beragam artikel mengenai hak-hak perempuan. Thabit selalu mengutarakan bahwa perempuan berhak untuk memperoleh kesetaraan di ruang kerja, pendidikan, bahkan lingkup keluarga.Di tingkat internasional, Munira Thabit telah dipandang sebagai jurnalis terbaik Mesir pada masanya. Ia menjadi perwakilan Mesir di konferensi jurnalisme internasional di Jerman, partisipan di Egyptian Feminist Union (EFU), dan turut mendirikan Perserikatan Jurnalis Mesir.
Memoarnya yang berjudul A Revolution in the Ivory Tower: My Memories of Twenty Years of Struggle for Women’s Political Rights, berisi komentar-komentar politik yang telah ia tulis di sepanjang kariernya
9. Edward Roscoe Murrow (AS, 25 April 1908 – 27 April 1965)
Edward Roscoe Murrow adalah seorang jurnalis penyiaran dan koresponden perang Amerika.
Ia pertama kali meraih ketenaran selama Perang Dunia II dengan serangkaian siaran radio langsung dari Eropa untuk divisi berita CBS.
Selama perang, ia merekrut dan bekerja sama erat dengan tim koresponden perang yang kemudian dikenal sebagai Murrow Boys.
Sebagai pelopor penyiaran berita radio dan televisi, Murrow menghasilkan serangkaian laporan di program televisinya See It Now yang membantu mengarah pada kecaman terhadap Senator Joseph McCarthy.
Kehidupan Murrow telah didramatisasi dalam beberapa film, termasuk Good Night, and Good Luck, yang mengambil namanya dari frasa penutup khas yang digunakan Murrow untuk mengakhiri banyak siaran masa perangnya.
Rekan-rekan jurnalis Eric Sevareid, Ed Bliss, Bill Downs, dan Alexander
Kendrick menganggap, seperti halnya Dan Rather, Murrow sebagai salah
satu tokoh jurnalisme terbesar.
10. Walter Cronkite (AS, 4 November 1916 – 17 Juli 2009)
Walter Cronkite adalah salah satu jurnalis televisi paling berpengaruh dalam sejarah Amerika Serikat. Beliau juga dikenal sebagai 'orang paling terpercaya di Amerika', karena melaporkan banyak peristwa paling bersejarah pada abad ke-20.
Dia bergabung dengan CBS pada tahun 1950 dan kemudian dipercaya menjadi pembawa acara utama CBS Evening News, yang membuat namanya dikenal luas oleh masyarakat.
Walter Cronkite yang memiliki nama lengkap Walter Leland Cronkite Jr., merupakan wartawan pionir program berita televisi dari Amerika.
Walter Cronkite juga merupakan orang yang melaporkan pendaratan Apollo di bulan pada tahun 1969. Beliau bahkan meliput hampir setiap penerbangan antariksa dari 1961 sampai 1981.
Selama lebih dari dua dekade, Cronkite melaporkan berbagai peristiwa besar di dunia, seperti Perang Vietnam, Krisis Rudal Kuba, hingga pembunuhan John F. Kennedy dan Martin Luther King Jr. Dia dipercaya oleh masyarakat karena selalu melaporkan informasi dengan tenang, faktual, dan tidak memihak.Kalimat paling ikonik dari Walter Cronkite dalam dunia jurnalisme adalah 'and that's the way it is' atau 'dan begitulah adanya'.
Pada tahun 1981, Walter Cronkite mendapatkan penghargaan Presidential Medal of Freedom dari Presiden Amerika Serikat, Jimmy Carter. Cronkite meraih ratusan penghargaan, termasuk berbagai Emmy dan Lifetime Achievement Award.
Setelah pensiun, ia menjadi figur yang dihormati di dunia jurnalistik, khususnya di Amerika Serikat. Beliau meninggal pada tahun 2009 pada usia 92 tahun.
11. Oriana Fallaci (Italia, 29 Juni 1929 - 15 September 2006)
Oriana Fallaci lahir di Florence, Italia, salah satu dari tiga anak perempuan dari Edoardo dan Tosca (Cantini) Fallaci.
Ayah ibunya adalah aktivis politik bagian dari gerakan anarkis yang berkembang di Italia pada tahun-tahun setelah Perang Dunia pertama. Ayahnya terlibat dalam perlawanan anti-fasis melawan kediktatoran Benito Mussolini (1883 - 1945).
Takdir politik Fallaci yang dibentuk oleh Perang Dunia II, ketika sebagai remaja ia menjadi aktif dalam gerakan bawah tanah melawan pendudukan Nazi Italia.
Tahun-tahun perang juga dia tangguh, pada satu titik kota kelahirannya berada di bawah pemboman udara berat, dan setelah melarikan diri ke tempat perlindungan serangan udara dengan keluarganya, 14 tahun ia menangis.
Melihat air matanya, Ayahnya memberi tamparan dia agar kuat.
“Ayah menatap mataku dan berkata, Seorang gadis tidak menangis,” kenang Fallaci dalam wawancara dengan Margaret Talbot untuk New Yorker.
Dia mengaku air mata yang terakhir yang pernah ia tumpahkan dalam hidupnya.
Orang tua Fallaci mendorongnya anak perempuan mereka untuk mengejar keberhasilan akademis, dan pada tahun 1945, dengan perang berakhir, ia masuk sekolah medis University of Florence.
Dia segera menyadari bahwa ilmu pengetahuan bukan panggilan sejati-nya, dan memutuskan ingin mengikuti jejak paman dari pihak ayah dan mencoba jurnalisme.
Menekan editor di Il Mattino dell'Italia centrale memberinya pekerjaan, ia mulai menulis untuk surat kabar pada tahun 1946 sebagai reporter kriminal dan kejahatan, dan berkembang untuk fitur cerita dan wawancara.
Tahun 1951 karyanya muncul secara teratur dalam sebuah majalah disebut Epoca, dan kemudian di lain, Europeo. Pada tahun 1958 bukunya yang pertama “Tujuh Dosa Hollywood” diterbitkan dalam bahasa Italia, pembuat film Orson Welles (1915-1985) menulis kata pengantarnya.
12. Hunter S Thompson (AS, 18 Juli 1937 – 20 Februari 2005)
![]() |
| Jurnalis Hunter S. Thompson duduk di belakang mesin tiknya di peternakannya dekat Aspen, Colorado, pada tahun 1976. |
Thompson mewujudkan reporter yang menghina dan tidak sopan yang senang mempermalukan raksasa yang kuat, dan dalam kasus ini, Richard Nixon.
Penulis buku "Fear and Loathing: A Savage Journey to the Heart of the American Dream" dan "Fear and Loathing: On the Campaign Trail" ini memulai sebagai reporter konvensional sebelum menciptakan gaya gonzo.
Thompson, yang sebagian besar bekerja untuk majalah Rolling Stone, bunuh diri pada usia 67 tahun, tetapi tetap diabadikan sebagai pelopor jurnalisme baru.
13. Frances FitzGerald (AS, 21 Oktober 1940- )
Frances FitzGerald tumbuh besar di New York City, FitzGerald lulus dengan magna cum laude dari Radcliffe College pada tahun 1962. Ia memulai karier jurnalistiknya di majalah New York Herald Tribune sebelum akhirnya pergi ke Vietnam sebagai jurnalis lepas dan menghabiskan waktu selama 16 bulan di sana.
Tulisan jurnalis lepas Frances FitzGerald mengenai Perang Vietnam adalah salah satu bukti perempuan bisa menelurkan karya yang diakui dunia internasional. Berkat karya non-fiksinya yang bertajuk Fire in the Lake: The Vietnamese and the Americans in Vietnam, FitzGerald diganjar Penghargaan Pulitzer pada 1973. Tulisannya itu disebut sebagai salah satu analisis terbaik mengenai keadaan di Vietnam.
FitzGerald pun mempelajari budaya serta sejarah Vietnam dan Cina sedalam mungkin. Jika para jurnalis laki-laki melaporkan aksi eksplosif peperangan yang sedang terjadi di sana, ia lebih berfokus kepada dampak perang tersebut terhadap kondisi politik dan masyarakat Vietnam Selatan.
FitzGerald dianggap berhasil memandang perang dengan perspektif alternatif telah menunjukkan pentingnya peran perempuan di berbagai ranah jurnalistik.
14. Akiyama Tohiro (Jepang 22 Juli 1942 - )
![]() |
| Toyohiro Akiyama di luar angkasa [Photo: IFL Science] |
Akiyama Tohiro adalah warga negara Jepang pertama sekaligus jurnalis pertama yang melakukan perjalanan ke luar angkasa.
Akiyama Tohiro terbang ke antariksa dengan pesawat Soyuz TM-11 pada 2 Desember 1990, selama 8 hari.
Beliau merupakan penumpang sipil pertama (astronaut non-profesional) yang berpartisipasi dalam penerbangan luar angkasa.
Selama misi tersebut, Akiyama membuat siaran televisi harian untuk Tokyo Broadcasting System (TBS), serta melakukan laporan langsung dari stasiun luar angkasa Mir.
15. Bob Woodward (AS, 26 Maret 1943 - )
![]() |
| Bob Woodward. [Photo: Andrew Harnik/ASSOCIATED PRES] |
Woodward memulai karier jurnalistiknya pada 1967 di Montgomery Sentinel. Dia kemudian bergabung dengan The Washington Post pada 1971 sebagai reporter metropolitan.
Setahun kemudian, ia dan Carl Bernstein ditugaskan menyelidiki kasus pembobolan markas Komite Nasional demokrat di kompleks Watergate. Dari hasil investigasinya, terungkap ada keterlibatan pemerintahan Presiden Richard Nixon dalam skandal tersebut.
Atas liputan itu, Woodward dan Bernstein pun dianugerahi penghargaan Pulitzer Prize pada 1973.Setelah kesuksesan itu, Woodward berkarier sebagai editor umum di The Washington Post dan menulis banyak buku politik berpengaruh, termasuk All the President’s Men.
16. Carl Bernstein (AS, 14 Februari 1944 - )
![]() |
| Carl Bernstein. [Photo: Sam Levitan] |
Carl Bernstein telah tertarik pada dunia jurnalistik sejak masih muda. Ia sempat menulis untuk surat kabar sekolah, meski kemudian dikeluarkan dari perguruan tinggi karena prestasi akademiknya yang buruk.
Bernstein kemudian memulai karier profesionalnya sebagai jurnalis pada 1965 di Elizabeth Daily Journal, sebelum akhirnya bergabung dengan The Washington Post pada 1966.
Nama Bernstein mulai melejit ketika bekerjasama dengan Bob Woodward dalam investigasi skandal Watergate pada 1972.
Melalui serangkaian laporan yang mendalam, Bernstein membantu membongkar keterlibatan pemerintahan Nixon dan upaya penutupannya. Investigas tersebut pun menjadi tonggak sejarah penting dalam jurnalisme investigasi dunia.
Setelah Watergate, Bernstein melanjutkan karier sebagai editor kontributor di Rolling Stone.
Bersama Woodward, ia juga menulis buku All the President’s Men yang kemudian diadaptasi menjadi film legendaris.
17. Robert Fisk ( Inggris, 12 Juli 1946 – 30 Oktober 2020)
![]() |
| Robert Fisk. [Photo: Public Domain] |
Robert Fisk adalah seorang jurnalis dan penulis terkemuka asal Inggris-Irlandia yang terkenal sebagai koresponden Timur Tengah untuk The Independent.
Ia meliput berbagai konflik besar di wilayah tersebut selama lebih dari 30 tahun, menjadikannya salah satu wartawan asing paling berpengalaman.
Robert Fisk memiliki penghargaan sebagai salah satu dari sedikit wartawan Barat yang mewawancarai orang paling dicari di dunia, Osama Bin Laden sebanyak tiga kali.
Sebagai seorang pembicara bahasa Arab, Fisk bekerja sebagai koresponden Timur Tengah untuk surat kabar Independen dan telah berbasis di Lebanon selama lebih dari 30 tahun. Dia sebelumnya bekerja untuk The Times.
Liputan konfliknya tentang Perang Iran-Irak, perang saudara di Lebanon dan di Aljazair, perang Teluk pertama dan kedua, telah membuatnya memenangkan banyak penghargaan. Fisk juga telah menulis beberapa buku tentang Timur Tengah dan Irlandia.
18. Hu Shuli (Tiongkok 1953 - )
![]() |
| Hu Shuli, Pemimpin Redaksi Caixin Media, menghadiri diskusi panel selama KTT Media Abu Dhabi perdana, pada 11 Maret 2010 di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. (Photo: Ana-Bianca Marin/Getty Images) |
Hu Shuli adalah jurnalis dari Tiongkok yang ikut mendirikan majalah bisnis populer di Tiongkok, yaitu Caijing pada 1998. Hu Shuli terkenal di Tiongkok karena keberaniannya mengungkap praktik bisnis merugikan di negaranya.
Beliau memulai karirnya sebagai reporter pada tahun 1982, yang kemudian dikenal karena berhasil menginvestigasi tentang korupsi dan penipuan.
Hu Shuli dianggap sebagai jurnalis yang patut ditakuti, karena jujur dan sangat berani dalam menyatakan kebebasan pers.
Shuli memulai karir jurnalistiknya sebagai reporter pada tahun 1982. Dia kemudian menjadi editor internasional dan kepala reporter di China Business Times, sebelum memulai majalah Caijing, sebuah publikasi bisnis pada tahun 1998. Namanya diakui secara global untuk karya investigasinya tentang korupsi dan penipuan.
Dia membuat grup media baru, Caixin Media pada tahun 2009 di mana dia tetap menjadi pemimpin redaksi. Shuli telah menerima banyak penghargaan internasional untuk prestasinya dan saat ini menjabat sebagai anggota dewan International Women's Media Foundation di Dewan Penasihat Editorial Reuters dan penasihat regional untuk International Center for Journalists.
Namanya terdaftar di antara 100 Orang Berpengaruh Teratas oleh majalah Time pada tahun 2011.
Jurnalis China Hu Shuli dianggap sebagai salah satu reporter terbaik di negara yang dibatasi media.
Hu Shuli dipercaya menjabat sebagai anggota dewan International Women's Media Foundation, sekaligus menjadi penasihat regional untuk International Center for Journalists.
19. Marie Colvin (AS, 12 Januari 1956 - 22 Februari 2012)
Marie Colvin adalah seorang jurnalis perempuan asal Amerika Serikat, yang bekerja sebagai koresponden luar negeri. Marie Colvin kerap disebut sebagai wartawan sejati, berkat peran dan perjuangannya selama menjadi jurnalis perang di berbagai negara di dunia.
Ia bekerja untuk surat kabar Inggris, The Sunday Times, sejak 1985 sampai akhir hidupnya pada 2012.
Marie Colvin lahir di Astoria, New York, Amerika Serikat. Karier Marie Colvin di bidang jurnalistik dimulai ketika ia mulai menulis untuk Yale Daily News. Bermula dari situ, ia memantapkan hati untuk menjadi seorang wartawan.
Marie Colvin sempat bekerja untuk serikat pekerja di New York, sebelum mulai merintis karier sebagai wartawan di United Press International (UPI), satu tahun setelah lulus dari Yale. Ia bekerja di UPI cabang Trenton, kemudian dipindah ke New York dan Washington.
Pada 1984, Colvin diangkat menjadi manajer biro UPI Paris. Setelah itu, ia dipindahtugaskan ke The Sunday Times pada 1985.
Satu tahun setelahnya, Colvin dipercaya untuk menjadi koresponden atau wartawan di Timur Tengah. Orang pertama yang Colvin wawancarai adalah pemimpin Libya, Muammar Gaddafi.
Berawal dari situ, ia banyak terjun ke negara-negara yang sedang berperang untuk melakukan liputan.
Pada 1999, saat sedang bertugas di Timor Leste, Colvin menyelamatkan sebanyak 1.500 perempuan dan anak-anak dari sebuah bangunan yang dikepung oleh pasukan bekingan Indonesia.
Pada 16 April 2001, Marie Colvin bertugas di Sri Lanka. Sewaktu sedang meliput, terjadi ledakan yang disebabkan oleh granat berpeluncur roket Angkatan Darat Sri Lanka. Akibat kejadian ini, Colvin kehilangan satu penglihatan di mata kirinya. Saat itu, ia sedang menyeberang dari daerah yang diduduki oleh Macan Tamil (organisasi militan di sebelah timur laut Sri Lanka) menuju ke daerah yang dikuasai pemerintah. Sejak saat itu, Colvin memakai penutup mata untuk mata kirinya.
Marie Colvin tewas pada 22 Februari 2012 saat sedang meliput serangan di Homs, yang merupakan bagian dari perang saudara di Suriah.
Pada 2019, pengadilan menyatakan bahwa Marie Colvin bukan menjadi korban perang, tetapi sengaja dibunuh atas perintah Pemerintah Suriah.
Untuk mengingat perjuangan Marie Colvin, dibuat sebuah film yang mengangkat kisahnya dengan judul A Private War, disutradari oleh Matthew Heineman.Film ini dirilis pada 2019, yang dibuat berdasarkan artikel Marie Colvin's Private War karya Marie Brenner pada 2012.
20. Anna Politkovskaya (Rusia, 1958 - 7 Oktober 2006)
![]() |
| Anna Politkovskaya (Photo: Rex Features) |
Dia adalah jurnalis investigasi Rusia, yang terkenal karena liputannya tentang pelanggaran hak asasi manusia oleh pemerintah Rusia di Chechnya, yang dibunuh pada 2006 di luar apartemennya di Moskow.
Anna Politkovskaya lahir di New York dan memulai kariernya sebagai reporter untuk surat kabar resmi, Izvestiya. Dia kemudian bergabung dengan surat kabar Novaya Gazeta yang berpikiran oposisi pada tahun 1999 dan segera setelah itu mulai melaporkan perang di Chechnya.
Pelaporannya yang tanpa rasa takut diyakini menjadi alasan pembunuhannya.
Kisah hidupnya yang fenomenal pernah beberapa kali difilmkan, hingga yang terakhir Words of War (2025) adalah sebuah film drama-thriller biografi yang diangkat dari kisah nyata, menyoroti perjuangan berani jurnalis Rusia, Anna Politkovskaya, dalam mengungkap kebenaran dan pelanggaran hak asasi manusia selama Perang Chechnya Kedua.
21. Christiane Amanpour (Inggris 12 Januari 1958 - )
![]() |
| Christiane Amanpour [Photo: CNN] |
Christiane Amanpour adalah jurnalis Inggris yang merupakan salah satu koresponden perang ternama di akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21.
Christiane Amanpour bisa dibilang salah satu wajah paling populer dari berita TV Amerika. Begitu andalnya Amanpour meliput di medan perang, hingga kini namanya dipakai dalam program serial CNN dan PBS sebagai pembawa acara di kedua saluran TV tersebut.
Ia menjabat sebagai Kepala Pembawa Berita Internasional di CNN dan tampil sebagai pembawa acara bernama Amanpour di CNN International dan Amanpour & Company di PBS.
Amanpour dibesarkan di Tehran hingga umur 11 tahun sebelum kembali ke Inggris, tempat kelahirannya. Ia melanjutkan pendidikannya di University of Rhode Island, Amerika Serikat, dan setelah lulus pada tahun 1983, ia memperoleh pekerjaan pertamanya di CNN sebagai asisten untuk ruang redaksi berita internasional.
Amanpour memulai karirnya sebagai jurnalis di CNN pada tahun 1983 sebagai asisten level pemula sebelum naik ke meja internasional. Sejak itu dia telah melaporkan dari Irak, Afghanistan, Korea Utara, wilayah Palestina, Iran, Sudan, Pakistan, Somalia, Rwanda, Mesir, Libya, Eropa dan AS.
Ia dikenal sebagai satu-satunya jurnalis yang berhasil mewawancarai Hosni Mubarak dan Muammar Gaddafi saat Arab Spring.
![]() |
| Jurnalis televisi CNN Christiane Amanpour sedang beraksi [Photo: ZIV KOREN/© KOREN ZIV/CORBIS SYGMA] |
Ketika Perang Teluk Persia pecah pada tahun 1990, Amanpour mulai dikenal sebagai reporter yang meliput konflik dengan baik. Ia disebut dapat menarasikan kebiadaban perang dan kejinya suatu konflik ke khalayak umum. Amanpour meliput invasi Irak ke Kuwait, kedatangan Amerika Serikat, dan setelahnya berlanjut ke pemberontakan Kurdi.
Selama lebih dari tiga dekade di dunia jurnalistik, Christiane meliput berbagai peristiwa besar dunia, termasuk perang, revolusi, dan krisis kemanusiaan. Penerima berbagai penghargaan, Amanpour juga menjabat sebagai anggota dewan Komite Perlindungan Jurnalis dan Yayasan Media Wanita Internasional.
Selain sebagai jurnalis, Christiane juga aktif di berbagai organisasi perlindungan pers internasional. Dia merupakan anggota Dewan Direksi Komite Perlindungan Jurnalis, Yayasan Media Perempuan Internasional, serta Pusat Integritas Publik.
Berkat dedikasinya di dunia jurnalistik, Christiane meraih sembilan Emmy, Penghargaan DuPont-Columbia, dan George Polk Award. Ia juga menerima Walter Cronkite Award untuk kategori Keunggulan dalam Jurnalisme pada 2011 dan Giants in Broadcasting Award pada tahun yang sama.
Pada 2015 lalu, ia menjadi salah satu jurnalis paling banyak diikuti oleh para pemimpin dunia di platform media sosial Twitter (kini X).
22. Lester Holt (Amerika Serikat, 8 Maret 1959 - )
![]() |
| Lester Holt, jurnalis Amerika Reporter di NBC Nightly News [Photo: Christopher Dilts/NBC] |
Lester Holt adalah jurnalis penyiaran Amerika yang saat ini bekerja sebagai reporter di NBC Nightly News.
Pada tahun 2008, beliau membantu proses peliputan selama Olimpiade Beijing 2008, serta menjadi moderator salah satu debat presiden Amerika Serikat pada tahun 2016.
Prestasi yang pernah dicapai yaitu mendapat Walter Cronkite Award untuk Excellence in Journalism pada tahun 2019.
Saat ini, Lester Holt memimpin laporan khusus NBC News, berfokus pada berita terkini dan liputan politik pada jam tayang utama.
Lester Holt juga meluncurkan 'Nightly News: Kids Edition' sebuah siaran berita digital untuk memberikan informasi dan mendidik anak-anak selama berkembangnya COVID-19.
23. Maria Ressa (Filipina, 2 Oktober 1963- )
![]() |
| Maria Ressa, jurnalis perempuan Filipina |
Ia kemudian mendirikan bisa dibilang adalah Rappler, media berita online yang didirikannya pada tahun 2012. Rappler telah meraih berbagai macam penghargaan dan menjadi salah satu portal berita terbesar di Filipina.
Di bawah kepemimpinannya, kritik terhadap Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengenai kebijakan-kebijakannya mengisi laman media berita tersebut. Karena sosoknya yang vokal tersebut, Ressa bahkan sempat beberapa kali ditangkap.
Maria Ressa disebut sebagai salah satu jurnalis yang tidak henti melawan berita sesat atau hoaks.
Sebagai jurnalis, Ressa memperjuangkan kebebasan pers. Nama dan profil Maria Ressa muncul pada majalah TIME edisi Person of the Year tahun 2018.
Ia memenangkan Nobel Perdamaian 2021 atas perjuangannya membela kebebasan pers dan mengungkap penyalahgunaan kekuasaan, disinformasi, serta korupsi di Filipina.
24. Sami Al Haji (Sudan, 15 Februari 1969 - )
![]() |
| Sami Al Haji [Photo: Al Jazeera] |
Sami Al Haji adalah Kameramen asal Sudan yang bekerja untuk kantor berita internasional Al Jazeera.
Diirinya dikirim untuk meliput perang AS melawan Taliban, saat ditangkap di perbatasan antara Pakistan dan Afghanistan pada 2001.
Dia dikurung selama lebih dari enam tahun di penjara militer AS di Teluk Guantanamo, Kuba, karena dituduh memiliki hubungan dengan al-Qaeda.
Al Haji dipukuli dan diinterogasi lebih dari 130 kali ketika di penjara dan memprotes tanpa lelah tentang perlakuannya di sana.
Dia akhirnya dibebaskan pada 2008 dan bergabung kembali dengan Al Jazeera, di mana dia menjabat sebagai kepala Bagian Kebebasan Publik dan Hak Asasi Manusia saluran tersebut.
![]() |
| Rekan-rekan Sami secara rutin mengadakan acara untuk memperingati penahanannya di Guantanamo dan untuk memastikan bahwa dia tidak dilupakan [Photo: Al Jazeera] |
Masih banyak para jurnalis internasional yang tercatat dalam sejarah karena sepak terjangnya dalam menyampaikan sebuah informasi, melakukan investigasi.
Kita akan coba mengumpulkan data dan mengupdate kembali tulisan ini, dengan sosok-sosok jurnalis era modern yang layak dijuluki The Reporter Legend.[]



































0 Komentar
comment