Wartawan Legendaris Indonesia dari Tokoh Pers Hingga Pahlawan Nasional


𝐑𝐞𝐩𝐨𝐫𝐭𝐞𝐫𝐋𝐞𝐠𝐞𝐧𝐝.𝐜𝐨𝐦 | Sosok - Dunia jurnalistik Indonesia mencatat sejumlah wartawan nasional yang terkenal karena perjuangan dan jasa mereka, serta kegigihan dan keuletan mereka dalam mencari, mendapatkan, dan menggali suatu informasi penting, untuk disampaikan ke khalayak umum. 

Mereka bekerja keras dan tidak kenal putus asa walaupun kesulitan menghadang mereka, sekalipun itu menyangkut nyawa mereka.

Setelah sebelumnya kita membahas sejumlah jurnalis legendaris internasional, kali ini giliran para jurnalis nasional yang juga menorehkan tinta emas dalam dunia jurnalistik hingga dikenal mancanegara.

Ada beberapa fakta menarik, yaitu sejumlah tokoh jurnalis Indonesia ditetapkan sebagai Tokoh Nasional hingga Pahlawan Nasional. Fakta menarik lainnya, beberapa tokoh jurnalis Indonesia merupakan pasangan suami istri.


Berikut beberapa tokoh jurnalis Indonesia dari masa ke masa, yang kami himpun dari berbagai sumber.


1.Ernest Douwes Dekker (1879-1950)

Ernest François Eugène Douwes Dekker adalah salah satu tokoh pergerakan dan jurnalis Indonesia yang sangat berpengaruh.

Ernest Douwes Dekker (Danudirja Setiabudi), tokoh pergerakan nasional Indonesia, lahir di Pasuruan, Jawa Timur, pada 8 Oktober 1879.

Setelah kembali dari Perang Boer Kedua (1899–1902), ia menekuni dunia jurnalistik dengan bekerja di surat kabar De Locomotief dan kemudian di Bataviaasch Nieuwsblad. Ernest, yang merupakan kerabat dari penulis terkenal Eduard Douwes Dekker (Multatuli), sangat kritis terhadap kolonialisme Belanda dan menggunakan tulisan sebagai alat perjuangan kemerdekaan.

Ia menulis artikel-artikel tajam seperti Het bankroet der ethische principes in Nederlandsch Oost-Indie (“Kebangkrutan Prinsip Etis di Hindia Belanda”) dan Hoe kan Holland het spoedigst zijn koloniën verliezen? (“Bagaimana Cara Belanda Segera Kehilangan Koloni-koloninya”), yang mengecam kebijakan kolonial dan menyoroti kesalahan kaum pribumi yang mendukung Belanda. 

Karena keberaniannya, ia sering menghadapi pengadilan, keluar-masuk penjara, dan diawasi oleh pemerintah kolonial. Selama Perang Dunia II, Ernest dibuang ke Suriname pada 1941 karena memiliki darah Jerman. Setelah kembali ke Indonesia pada 1947, ia mengganti namanya menjadi Danudirja Setiabudi dan menyaksikan pengakuan kedaulatan Indonesia secara resmi pada 1949.

Ernest wafat meninggal dunia di Bandung, Jawa Barat, pada 28 Agustus 1950 di usia 70 tahun dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cikutra. Ia meninggalkan warisan sebagai jurnalis dan aktivis yang gigih memperjuangkan kemerdekaan melalui pena dan media, sekaligus sebagai salah satu pendiri Indische Partij yang menekankan kemerdekaan dan kesetaraan bagi eluruh rakyat Indonesia.



2. Tirto Adhi Soerjo (1880-1918)


Tirto Adhi Soerjo adalah seorang toakoh pers dan tokoh kebangkitan nasional Indonesia. Ia dikenal sebagai perintis persuratkabaran dan kewartawanan nasional Indonesia. Karena kiprahnya di bidang jurnalistik, Tirto Adhi Soerjo juga mendapatkan julukan sebagai Bapak Pers Nasional.  

R.M. Tirto Adhi Soerjo kadang-kadang ditulis dengan cara Raden Mas Tirtohadisoerjo, dilahirkan di Blora pada tahun 1880 dan meninggal pada tahun 1918.
 
R.M. Tirto Adhi Soerjo adalah anak dari Raden Ngabehi Muhammad Chan Tirtodipuro dan cucu dari Raden Mas Tumenggung Tirtonoto. Meskipun memiliki latar belakang sebagai priyayi yang seharusnya melanjutkan pendidikan di bidang pemerintahan, Tirto memilih untuk mengejar pendidikan kedokteran di Stovia Batavia sejak 1893 hingga 1900. Tirto menjadi pionir dalam menggunakan surat kabar sebagai alat propaganda dan sarana membentuk opini publik pada masa penjajahan.

Keberaniannya dalam menulis kritik tajam terhadap pemerintahan kolonial Belanda pada masa itu telah membuatnya menghadapi konsekuensi berat, termasuk penangkapan dan pengasingan dari Pulau Jawa. Jejak karier Tirto Adhi Soerjo Bagi Tirto Adhi Soerjo, peran pers seharusnya berfokus pada pengembangan dan pemahaman akan hak-hak serta martabat rakyat. Oleh karena itu, ia sangat aktif dalam mengelola berbagai media massa, baik sebagai penulis maupun pemimpin redaksi, termasuk Pembrita Betawi, Soenda Berita, Medan Priyayi, Soeloeh Keadilan, Poetri Hindia, Sarotomo, Soeara B.O.W, Soeara Spoor dan Tram, serta Soeraaurna.

Ia melihat tugasnya sebagai wartawan dapat menjadi sarana untuk memberikan kesadaran kepada masyarakat dalam menghadapi berbagai persoalan yang muncul. Tirto Adhi Soerjo memulai kariernya di dunia jurnalistik saat ia menjadi kepala redaksi surat kabarnya yang bernama Soenda Berita pada 1901. Soenda Berita merupakan surat kabar pertama yang sepenuhnya dikelola langsung oleh orang pribumi.

Antara tahun 1905-1906, Tirto Adhi Soerjo melakukan perjalanan panjang di luar Jawa untuk mengumpulkan dana, tetapi sayangnya upaya tersebut berdampak fatal terhadap kelangsungan Soenda Berita. Soenda Berita mengalami nasib tragis dengan kehilangan dukungan finansial dan akhirnya menyebabkan penghentian penerbitannya. Pada 1906, Tirto Adhi Soerjo mendirikan Sarekat Prijaji, sebuah organisasi yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan kaum pribumi. Lalu, pada 1907, Tirto Adhi Soerjo memimpin Medan Prijaji, sebuah surat kabar pertama di Nusantara dengan redaksi yang berasal dari orang pribumi dan diterbitkan dalam bahasa Melayu secara mingguan.

Berbasis di Bandung, Medan Prijaji menjadi surat kabar pertama yang mengusung semangat nasionalis. Medan Prijaji bahkan sempat memiliki pelanggan tetap 2.000 orang. Medan Prijaji mendapatkan dukungan finansial dari para aristokrat dan pengusaha setempat.

Gaya penulisan artikel Tirto dalam Medan Prijaji mengikuti metode T. Pangemanan dan Razoux Kuhr. Dalam Medan Prijaji, Tirto Adhi Soerjo sering menulis kritik dalam bentuk cerita pendek. Pada 10 Desember 1908, NV Javasche Boekhandel en Drukkerij en Handel in Schrijfbohoeften “Medan Prijaji” secara resmi mendapatkan status badan hukum. Perusahaan NV (Naamloze Vennootschap) atau sering disebut perseroan terbatas alias PT ini tidak hanya bertanggung jawab atas penerbitan Medan Prijaji, tetapi juga mengelola beberapa media lainnya, termasuk Soeloeh Keadilan.

Dua surat kabar ini berhasil membawa Tirto Adhi Soerjo menjadi tokoh Indonesia pertama yang menggunakan media untuk mengilhami kesadaran nasional di kalangan bangsa pribumi. Pencapaian ini menimbulkan kecemasan di kalangan pers Eropa dan pemerintah kolonial Belanda. Oleh sebab itu, kritik-kritik yang disampaikan oleh Tirto Adhi Soerjo melalui tulisannya membuatnya dijatuhi hukuman penjara selama tiga bulan di Lampung.
 
Pada 1908, Tirto menyadari bahwa Sarekat Prijaji tidak memiliki popularitas yang memadai sebagai sebuah organisasi berorientasi pendidikan. Oleh karena itu, setelah Budi Utomo didirikan pada tahun yang sama, Tirto Adhi Soerjo memutuskan untuk bergabung dengan organisasi tersebut. Dengan demikian, Sarekat Prijaji pun berakhir. Saat rapat besar Budi Utomo pada 17 Januari 1909, Tirto menyarankan agar organisasi ini merangkul pedagang pribumi sebagai anggota dan lebih fokus pada pendidikan anak negeri.

Meskipun demikian, perselisihan dengan Budi Utomo pada 1909 menyebabkan Tirto keluar dari organisasi tersebut. Tirto Adhi Soerjo menilai Budi Utomo hanya akan mengangkat kaum priyayi Jawa. Menurut Tirto, untuk memajukan kelompok yang kurang berdaya, sebaiknya tidak bergantung pada golongan elit atau pejabat pemerintah, tetapi lebih baik berkolaborasi dengan individu yang bebas, khususnya para pedagang.

Demi mencapai tujuan kesadaran berbangsa, pada tahun yang sama, Tirto Adhi Soerjo menggagas pendirian Sarekat Dagang Islam (SDI) di Bogor dan Batavia yang mewadahi para pedagang batik, pegawai rendah Kasunanan, hingga orang-orang petugas keamanan. Perannya dalam pembentukan SDI di Surakarta bersama Haji Samanhudi menjadi titik awal berdirinya Sarikat Islam yang kemudian berkembang di seluruh Indonesia. Anggaran Dasar pertama Sarikat Islam mendapat persetujuan dari Tirto sebagai ketua Sarikat Islam di Bogor dan redaktur surat kabar Medan Prijaji di Bandung.

Pada 1912, Tirto Adhi Soerjo hadir dalam rapat besar SDI Surakarta dan menyerahkan kepemimpinan SDI kepada Samanhoedi. Samanhoedi kemudian bertemu dengan Oemar Said Tjokroaminoto dan Tjokrosoedarmo yang saat itu menjadi pengurus SDI Surabaya. SDI Solo kemudian membuat anggaran dasar baru dan mengganti nama menjadi Sarekat Islam. Pengasingan Tirto Keberanian Tirto dalam mengkritik penjajahan berbuah serangan balik dari pemerintah kolonial Belanda. Selain itu, omset Medan Prijaji terus merosot sehingga mereka tidak bisa melunasi biaya percetakan.

Akhirnya pada 20 agustus 1912, Medan Prijaji berhenti terbit karena tidak bisa melunasi utangnya. Pada pertengahan Desember 1912, Tirto Adhi Soerjo kembali terlibat dalam kasus hukum terkait tulisan-tulisannya yang kontroversial yang membuatnya dilaporkan oleh pejabat kolonial. Ia pun dijatuhi vonis untuk diasingkan ke Maluku. Tak hanya itu, seluruh kekayaan Tirto dan modalnya dilikuidasi pemerintah Belanda. Keputusan ini resmi ditandatangani oleh majelis hakim pada 17 Desember 1912.

Pada tahun itu juga, Sarekat Dagang Islam (SDI) mengubah namanya menjadi Sarekat Islam (SI) atas inisiatif Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto. Samanhoedi mengumumkan bahwa Sarekat Islam tidak memiliki hubungan dengan SDI yang didirikan oleh Tirto di Bogor dan Batavia. Tirto tidak dapat berbuat banyak karena ia masih berada di Maluku dan harus menjalani hukuman pembuangannya selama 6 bulan.
 
Akhir hidup Setelah kembali dari pengasingan, situasi di pulau Jawa berubah dan banyak organisasi kebangsaan muncul. Tirto tidak lagi menjadi tokoh utama di surat kabar dan mulai dilupakan oleh banyak orang. Selain itu, gerak-geriknya selalu diawasi dan dibatasi oleh penguasa kolonial yang menyebabkan kesehatan fisik serta mental Tirto menurun.

Akhirnya, pada 7 Desember 1918, Tirto Adhi Soerjo mengembuskan napas terakhirnya di usia 38 tahun. Berselang 55 tahun setelah kematiannya, pemerintah Indonesia mengakui peran penting Tirto dan menetapkannya sebagai Bapak Pers Nasional.

Tirto Adhi Soerjo akhirnya diberi gelar Pahlawan Nasional dan Tanda Kehormatan Bintang Maha Putra Adipradana pada 10 November 2006.
 
Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional bagi Tirto Adhi Soerjo diumumkan melalui Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 085/TK/Tahun 2006 pada 3 November 2006.

Sebelumnya ia bernama R.M. Djokomono, mantan murid Stovia yang pada saat itu bekerja sebagai redaktur harian Bintang Betawi (yang kemudian berganti nama menjadi Berita Betawi), lalu memimpin Medan Prijaji yang berkantor di Bandung. Gaya kewartawanan dan metode jurnalistik yang diterapkan oleh R.M. Tirtohadisoerjo mengikuti metode T. Pangemanan dan Razoux Kuhr. Sebagai surat kabar pertama yang bersuara nasional, di dalam surat kabar ini sering muncul kritik-kritik yang ditulis sendiri oleh R.M. Tirto Adhi Soerjo.

Yang menarik adalah bahwa tulisan-tulisan kritik tersebut ditulis oleh R.M. Tirto Adhi Soerjo dalam bentuk cerita pendek. Tirto adalah orang pertama yang menggunakan surat kabar sebagai alat propaganda dan pembentuk pendapat umum. Dia berani menulis kecaman-kecaman pedas terhadap pemerintahan kolonial Belanda pada masa itu. Di bawah kepala surat kabar Medan Prijaji tertulis "orgaan boeat bangsa jang terperintah di Hinia Olanda, tempat memboeka soearanja". Moto yang disampaikan oleh Tirtohadisoerjo pada masa itu sudah dianggap radikal. Bandingkan dengan moto yang digunakan surat kabar lain, Sinar Sumatra "Kekallah keradjaan Wolanda, sampai mati setia kepada keradjaan Wolanda".

Medan Prijaji dikenal sebagai surat kabar nasional pertama karena menggunakan bahasa Melayu (bahasa Indonesia), dan seluruh pekerja mulai dari pengasuhnya, percetakan, penerbitan dan wartawannya adalah "pribumi" 'Indonesia asli'. Tirto menerbitkan surat kabar Soenda Berita (1903—1905), Medan Prijaji (1907—1912) dan Putri Hindia (1908).

Akhirnya, Tirto ditangkap dan disingkirkan dari Pulau Jawa dan dibuang ke Pulau Bacan, dekat Halmahera (Provinsi Maluku Utara).

Peran Tirto Adhi Soerjo dalam dunia pergerakan terlihat dalam kiprahnya saat pendirian Serikat Dagang Islam yang didirikannya pada tahun 1911 di Bogor. Dalam rangka memperkenalkan ide-idenya untuk memajukan perdagangan bumiputera, Tirto Adhi Soerjo datang ke Surakarta dan di sini ia bertemu dengan Haji Samanhudi, seorang pengusaha batik di kampung Laweyan. Sarekat Dagang Islam diubah menjadi Sarekat Islam setelah Tjokroaminoto masuk dalam organisasi tersebut atas ajakan H. Samanhudi. Takashi Shiraishi dalam buku Zaman Bergerak menyebut Tirto Adhi Soerjo sebagai orang bumiputra pertama yang menggerakkan bangsa dengan bahasanya melalui Medan Prijaji.

Sebagai seorang wartawan ia adalah seorang tokoh pers dan tokoh kebangkitan nasional Indonesia. Dia juga dikenal sebagai perintis persuratkabaran dan kewartawanan nasional Indonesia. Namanya sering disingkat T.A.S.

Kisah perjuangan dan kehidupan Tirto diangkat oleh Pramoedya Ananta Toer dalam Tetralogi Buru dan Sang Pemula. Pramoedya membentuk tokoh rekaan historis dalam novel tetraloginya. Minke tampaknya merupakan perwujudan R.M. Tirto Adhi Soerjo, bapak kewartawanan berbahasa Melayu di Jawa dan perintis pergerakan yang telah menumbuhkan Syarikat Priyayi dalam tahun 1906. Berhubungan dengan ini, dapat dikatakan bahwa, walaupun ada banyak kemiripan antara watak utama Minke dan R. M. Tirto Adhi Soerjo, mereka tidak keseluruhannya identik. Pramoedya sendiri menegaskan bahwa novel-novelnya tetap harus dibaca sebagai karya fiksi, bukan sebagai buku sejarah (dalam wawancara 17 Juni 1991). Oleh sebab itu, tokoh utama dalam tetralogi ini bukan Tirto, melainkan Minke sebagai seorang tokoh buatan yang bersumberkan sejarah. Mengenai pengambilan tokoh Tirto, ia menjelaskan sebagai berikut. "R. M. Tirto bukan saya maksudkan ditampilkan sebagai hero, tapi sebagai individu yang telah melepaskan diri dari kebersamaan tradisional, yang berabad lamanya jadi penghambat progres. Ini nilai kultural yang telah dicapai oleh R. M. Tirto (surat kepada Marjanne Termorshuizen Arts, 6 Feb. 1987)."

Awal munculnya sastra Indonesia ditandai oleh hadirnya beberapa penulis Tionghoa peranakan dan penulis Indo Belanda, seperti H. Kommer dan Pangemanan. Babak kedua dilanjutkan oleh bacaan-bacaan yang ditulis oleh orang bumiputra sendiri pada awal abad ke-20. Yang menarik dari perkembangan produksi bacaan yang dilahirkan oleh orang-orang bumiputra adalah penggunaan bahasa "Melayu Pasar" yang rupanya juga mengikuti para pendahulunya, golongan Indo dan Tionghoa peranakan. Bahasa "Melayu Pasar" adalah bahasa para pedagang dan kaum buruh yang tidak pernah mengenyam pendidikan sekolah dengan pengajaran bahasa Melayu yang baik.

Selain itu, bacaan-bacaan yang ditulis dalam bahasa Melayu Pasar mempergunakan bahasa lisan sehari-sehari yang terasa lebih spontan, kadang-kadang lebih hidup, dan lebih bebas dari ikatan tatabahasa. Perkembangan produk bacaan bumiputra sangat didukung dengan berkembangnya industri pers yang mulai tumbuh pada awal abad ke-20.

Golongan bumiputra yang bisa disebut perintis fiksi modern adalah R.M. Tirto Adhi Soerjo. Karyanya adalah Doenia Pertjintaan 101 Tjerita jang soenggoe terjadi di Tanah Priangan diterbitkan pada tahun 1906. Kemudian disusul dengan Tjerita Njai Ratna, terbit tahun 1909, Membeli Bini Orang, terbit pada tahun yang sama, dan Busono terbit tahun 1912. Tulisan-tulisan nonfiksi R.M. Tirtohadisoerjo, atau lebih tepat tulisan politiknya adalah "Gerakan Bangsa Tjina di Soerabaja melawan Handelsvereniging Amsterdam" yang dimuat dalam Soenda Berita pada tahun 1904; "Bangsa Tjina di Priangan" dimuat dalam media yang sama pada tahun 1904; "Peladjaran Boeat Perempoean Boemipoetera" yang juga dimuat dalam media yang sama dan tahun yang sama; "Soeratnja Orang-Orang Bapangan", dimuat dalam Medan Prijaji (MP), tahun 1909; "Persdelict: Umpatan", diumumkan dalam MP tahun 1909, "Satoe Politik di Banjumas", disiarkan di MP tahun 1909; "Drijfusiana di Madioen" dimuat di MP tahun 1909; "Kekedjaman di Banten" dimuat di MP tahun 1909; "Omong-Omong di Hari Lebaran", disiarkan di MP tahun 1909; "Apa jang Gubermen Kata dan Apa jang Gubermen Bikin" dimuat di MP tahun 1910 dan "Oleh-Oleh dari Tempat Pemboeangan" yang pertama kali disiarkan di harian Perniagaan dan diumumkan kembali di MP tahun 1910.

R.M. Tirto Adhi Soerjo adalah seorang pelopor pergerakan nasional yang menyusun bacaan-bacaan fiksi dan non-fiksi yang telah mendorong beberapa tokoh pergerakan seperti Mas Marco Kartodikromo, Soewardi Soerjaningrat, Tjipto Mangoenkoesoemo, Semaoen, Darsono dan lainnya untuk melakukan hal yang sama. Mereka menghasilkan bacaan-bacaan populer yang terutama ditujukan untuk mendidik bumiputra yang miskin.

Bacaan-bacaan yang mereka hasilkan merupakan ajakan untuk mengobati badan bangsanya yang sakit karena kemiskinan, juga jiwanya karena kemiskinan yang lain, kemiskinan ilmu dan pengetahuan. Penyebaran gagasan dalam bentuk bacaan politik tersebut berkenaan dengan konsep pergerakan, sebagaimana ditegaskan oleh Marco pada tahun 1918.

Tirto Adhi Soerjo juga sangat peduli dengan dunia usaha. Dia merupakan orang bumiputra yang mempunyai rumah cetaknya sendiri. Rumah cetak tersebut diusahakannya dengan cara bekerja sama dengan Hadji Moehammad Arsjad dan Pangeran Oesman--NV Javaanche Boekhandel en Drukkerij en Handel in Schrijfboeten Medan Prijaji, yang kemudian disusul dengan berdirinya rumah cetak Insulinde yang sebagian besar dananya disokong oleh H.M. Misbach. Rumah cetak Insulinde ini, antara lain, menerbitkan Mata-Gelap-nya Marco.

Sebagai seorang penulis, R.M. Tirto Adhi Soerjo dikenal dengan tulisannya yang sering disebut sebagai bacaan politik yang kemudian di dalam dunia sastra disebut sebagai "bacaan liar". 

Dia adalah orang yang pertama kali merintis perlunya bacaan bagi rakyat Hinia yang tidak terdidik. Dia memulainya dengan menerbitkan artikel "Boycott" di surat kabar Medan Prijaji. Artikel "Boycott" dijadikannya senjata bagi orang-orang lemah untuk melawan para pemilik perusahaan gula. Tindakan boikot pertama kali dilakukan oleh orang-orang Tionghoa terhadap perusahaan-perusahaan Eropa, yang menolak permintaan mereka untuk memperoleh barang. Tindakan para pengusaha Eropa ini dibalas oleh orang-orang Tionghoa dengan memboikot produk perusahaan-perusahaan Eropa sehingga hampir sekitar 24 perusahaan Eropa di Surabaya gulung tikar.

Makna dan nilai artikel "Boycott" ini sangat penting bagi produk penulisan bacaan yang menentang kediktatoran kolonial di masa selanjutnya. Artikel ini merupakan pendorong bagi orang bumiputra lainnya karena Tirto Adhi Soerjo menyadarkan bahwa bacaan-bacaan politik sangat diperlukan untuk membuka mata dan daya kritis orang bumiputra yang selama itu dikungkung oleh cerita-cerita kolonial.

Gaya penulisan bacaan politik yang dipelopori oleh Tirto kemudian diikuti oleh para pemimpin pergerakan lainnya, seperti Mas Marco Kartodikromo dan Tjipto Mangoenkoesoemo, yang sama-sama perintis jurnalis dan sama-sama kukuh memegang prinsip pergerakan sekalipun keduanya berbeda dalam memandang pergerakan.

Dalam majalah Tempo, Mei 2008, disebutkan bahwa pada 7 Desember 2007 buyutnya R.M. Tirto Adhi Soerjo (artis Dewi Yull) menerima kenang-kenangan Panitia Seabad Pers Kebangsaan. Cendera mata tersebut berupa poster R.M. Tirtohadisoerjo yang menegaskan perannya di kancah pergerakan nasional Indonesia.



3.Abdul Moeis ( 1883-1959)


Abdul Moeis asal Sumatra Barat adalah salah satu tokoh jurnalis dan sastrawan terkemuka Indonesia yang juga menjadi pelopor pers modern.

Abdoel Moeis lahir di Sungai Puar, Bukittinggi, Sumatera Barat pada 3 Juli 1883. 

Seperti Tirto Adhi Soerjo, Abdul menempuh pendidikan di STOVIA, namun harus berhenti karena sakit. Berasal dari keluarga patriotik, ia dibesarkan dengan nilai-nilai cinta tanah air dan semangat memperjuangkan kemerdekaan.

Meskipun tak melanjutkan jalur medis, Abdul justru jatuh cinta pada dunia jurnalistik.

Pada 1912, ia menjadi salah satu pendiri harian Kaoem Moeda, yang digunakan sebagai media untuk mengkritik kezaliman pemerintahan Belanda dan menyuarakan aspirasi rakyat pribumi. Aktivitas jurnalistiknya yang vokal bahkan membuatnya sempat diasingkan ke Garut, Jawa Barat.

Selain menulis di pers, Abdul Moeis juga berkiprah di bidang sastra. Novelnya yang bertajuk Salah Asuhan (1928) menggambarkan dilema rakyat pribumi antara mempertahankan nilai-nilai tradisional Tanah Air atau tunduk pada kehendak kolonial.


Beliau meninggal dunia pada usia 76 tahun, tepatnya pada 17 Juni 1959 di Bandung, Jawa Barat, dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cikutra. Dua bulan kemudian Presiden Soekarno menganugerahi gelar Pahlawan Nasional, menjadikannya tokoh sejarah Indonesia pertama yang menerima kehormatan tersebut. Kontribusinya melalui jurnalistik dan sastra menegaskan pentingnya pers sebagai sarana perjuangan intelektual, sosial, dan politik bagi kemerdekaan Indonesia.


4. Roehana Koeddoes (1884-1972)

Roehana Koeddoes Lahir di Sumatra Barat pada tanggal 20 Desember 1884, Roehana Koeddoes merupakan figur seorang pejuang intelektual yang dipanggil sebagai Wartawati Pertama Indonesia dan pelopor Pers Indonesia.

Hidup di era yang sama dengan R.A Kartini di mana pada waktu itu kaum perempuan masih tidak bisa mendapatkan pendidikan formal, Roehana beruntung karena punya sosok ayah yang mau mengajarinya banyak hal dari ia kecil, terutama dalam soal membaca, menulis, dan berbahasa.

Sejak ia kecil sudah banyak membaca buku-buku, Roehana tumbuh dewasa dengan pemikiran yang semakin hari semakin tajam, apalagi mengenai politik dan sadar pada isu-isu emansipasi, satu hal yang mendapat tentangan keras tidak cuma dari pemerintah Belanda, tapi juga kaidah agama serta budaya setempat.

Merasa tidak puas cuma berhasil membuat sekolah keterampilan buat perempuan Indonesia, Roehana pun membuat surat kabar bernama Sunting Melayu pada tanggal 10 Juli 1912, yang faktanya ternyata surat kabar yang ia bangun merupakan surat kabar pertama di Indonesia yang dipimpin, dijalankan, dan ditujukan untuk kaum perempuan.

Dengan isu nasionalisme dan emansipasi perempuan dalam soal pendidikan, Roehana mengemban tugas sebagai pemimpin redaksi yang ikut dibantu oleh sosok Zubaidah Ratna Djuwita. Tak cuma jadi tempat untuk berpendapat para perempuan di Sumatra Barat, Sunting Melayu yang terbit seminggu sekali dan bertahan terbit sampai 9 tahun juga menerima tulisan dari wilayah-wilayah lain di Indonesia.

Selain Sunting Melayu, Roehana juga pernah menjadi pemimpin surat kabar Perempuan Bergerak di Medan serta surat kabar Radio dan Cahaya Sumatera di Padang. Karena jasanya yang besar dalam dunia jurnalistik, edukasi, dan politik, Roehana yang wafat pada tanggal 17 Agustus 1972 di Jakarta pun dianugerahi Bintang Jasa Utama oleh pemerintah Indonesia pada tahun 2007 yang lalu.

Ruhana Kuddus adalah jurnalis perempuan pertama di Indonesia yang juga ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Joko Widodo pada 2019. Selain menjadi jurnalis, ia juga mendirikan sekolah dan dikenal sebagai salah satu aktivis emansipasi perempuan. Sekolah yang didirikan oleh Ruhana Kuddus adalah sekolah Kerajinan Amai Setia (KAS) di Koto Gadang, Sumatera Barat. Ruhana Kuddus juga memiliki surat kabar sendiri yang diberi nama Sunting Melayu, yang tercatat sebagai salah satu surat kabar perempuan pertama di Indonesia.
 
Ayahnya adalah Mohammad Rashad Maharadja Soetan, kepala jaksa Karesidenan Jambi dan Medan. Ruhana Kuddus masih memiliki hubungan saudara dengan salah seorang tokoh pergerakan Indonesia, yaitu Sutan Sjahrir dan Agus Salim.
 
Sedari kecil, Ruhana tidak menempuh pendidikan secara formal. Ia banyak mendapat pelajaran dari sang ayah, baik dari belajar membaca ataupun studi bahasa. Ruhana sempat tinggal di Alahan Panjang, Sumatera Barat karena pekerjaan sang ayah, dan kembali ke Koto Gadang pada 1897, karena sang ibu meninggal dunia. Sejak kembali ke kampung halaman, Ruhana semakin tertarik untuk mengajar para gadis untuk belajar tentang kerajinan tangan dan membaca Al Quran.
 
Ruhana pun tumbuh menjadi seorang perempuan yang memiliki tekad kuat dan sangat memajukan kaum perempuan. Pada zamannya, ia merasa bahwa praktik diskriminasi terhadap perempuan merupakan suatu hal yang harus dilawan. Didorong dengan kecerdikan, keberanian, serta perjuangannya, Ruhana melawan ketidakadilan demi mengubah nasib perempuan Indonesia. Peran Ruhana Kuddus di bidang pendidikan Perjuangan Ruhana Kuddus dimulai dengan mendirikan sekolah di Koto Gadang pada 1905. Tiga tahun kemudian, Ruhana menikah dengan seorang notaris, Abdoel Koeddoes, yang sangat mendukungnya dalam mendidik perempuan.
 
Pada Februari 1911, Ruhana memutuskan untuk mendirikan sebuah perkumpulan pendidikan perempuan bernama Kerajinan Amai Setia (KMS). Tujuannya adalah untuk mengajarkan keterampilan di luar rumah tangga, serta membaca tulisan Jawa dan Latin. Pada awal KMS berdiri, Ruhana berhasil merekrut sekitar 60 siswa. Setelah empat tahun berdiri, KMS pun diakui secara resmi oleh pemerintah Hindia Belanda. Kondisi ini yang menjadi awal Ruhana menjalin hubungan kerja sama dengan Belanda, khususnya dalam memesan peralatan dan kebutuhan menjahit untuk sekolahnya. Selain sibuk dalam dunia pendidikan, Ruhana juga aktif menulis puisi dan artikel, yang mengantarkannya menjadi seorang jurnalis.
 
Mendirikan surat kabar Keterampilan Ruhana Kuddus dalam menulis mendorongnya mendirikan surat kabar sendiri yang bernama Sunting Melayu pada 1912. Tujuan surat kabar tersebut adalah untuk meningkatkan pendidikan perempuan Indonesia, terutama karena banyak yang masih belum fasih berbahasa Belanda. Surat kabar Sunting Melayu mengulas tentang isu-isu sosial, termasuk tradisionalisme, poligami, perceraian, dan pendidikan anak perempuan.
 
Di tengah kesibukan Ruhana sebagai jurnalis, nasib KMS berada di ujung tanduk. Pada 22 Oktober 1916, salah satu murid Ruhana menjatuhkannya dari jabatan direktur perempuan dengan menuduhnya telah melakukan penyelewengan uang. Akibatnya, Ruhana pun harus bolak-balik mendatangi persidangan untuk mengusut kasus ini.
 
Setelah beberapa kali ke persidangan, segala tuduhan Ruhana tidak terbukti, sehingga KMS dikembalikan kepadanya. Namun, ia menolak karena ingin pindah ke Bukittinggi, Sumatera Barat. Ruhana akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Sunting Melayu pada awal 1921.
 
Mendirikan Roehana School Begitu pindah ke Bukittinggi, Ruhana Kuddus mendirikan sekolah bernama Roehana School, yang ia kelola sendiri tanpa bantuan siapa pun. Banyak murid yang masuk ke Roehana School, bahkan tidak hanya dari Bukittinggi tetapi juga dari daerah lain. Berkat kepandaian dan kepopulerannya, Ruhana mendapat tawaran menjadi pengajar di sekolah Dharma Putra. Ia dipercaya untuk mengajar keterampilan menyulam dan merenda. Selama bertahun-tahun, Ruhana terus mengajar di sekolah.
 
Perjuangan Ruhana Kuddus Melihat Belanda terus menyengsarakan rakyat pribumi, baik secara mental maupun fisik, Ruhana Kuddus tidak tinggal diam. Ia ikut melakukan pergerakan politik melalui tulisannya yang membakar semangat para pejuang muda. Ruhana juga memberikan ide penyelundupan senjata dari Koto Gadang ke Bukittinggi melalui Ngarai Sianok dengan cara menyembunyikannya dalam sayur dan buah.
 
Sampai akhir hidupnya, Ruhana terus memperjuangkan kaum perempuan.

Ruhana Kuddus meninggal pada 17 Agustus 1972 di Jakarta. Jasadnya dikebumikan di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak. Pada 1974, pemerintah daerah Sumatera Barat memberi penghargaan kepada Ruhana Kuddus sebagai Wartawati Pertama Indonesia.
 
Ia juga mendapat penghargaan sebagai Perintis Pers Indonesia pada 1987 dan Penghargaan Bintang Jasa Utama pada 2007.

 Lalu, sejak 7 November 2019, pemerintah Indonesia menetapkan Ruhana Kuddus sebagai Pahlawan Nasional melalui Keppres No. 120/TK/2019.


5. Ki Hajar Dewantara (1889-1859)


Raden Mas Soewardi Soerjaningrat atau yang lebih dikenal dengan nama Ki Hajar Dewantara memang terkenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional melalui pendirian Taman Siswa.

Namun sebelum itu, beliau juga aktif di dunia pers.

Ki Hajar Dewantara lahir di Yogyakarta pada 2 Mei 1889 dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat.

Ki Hajar Dewantara dikenal karena tulisan-tulisannya yang kritis terhadap kolonialisme Belanda dan dukungan untuk kemerdekaan Indonesia. Bersama Ernest Douwes Dekker dan Cipto Mangunkusumo, ia mendirikan surat kabar De Express pada 1912, yang menjadi salah satu media perlawanan penting di masa itu.

Salah satu tulisannya yang paling terkenal adalah Seandainya Aku Seorang Belanda (Als ik een Nederlaner was), yang mengecam rencana Belanda merayakan kemerdekaan dari Prancis dengan membebani rakyat pribumi.

Karena aktivitas jurnalistik yang berani ini, kelompok yang dikenal sebagai Tiga Serangkai itu diasingkan Belanda. Setelah kembali ke Indonesia, Ki Hajar Dewantara memfokuskan diri pada bidang pendidikan, mendirikan Taman Siswa sebagai lembaga yang memperjuangkan hak pendidikan rakyat dan memperkuat identitas nasional. Kiprahnya di dunia pers dan pendidikan menjadikannya tokoh sentral dalam sejarah nasional. 

Tokoh yang dijuluki Bapak Pendidikan Nasional ini meninggal dunia di Yogyakarta pada 26 April 1959 pada usia 69 tahun. Kontribusinya dalam membangun kesadaran kebangsaan melalui tulisan dan pendidikan tetap menjadi teladan hingga kini.


6. Tan Malaka (1897 -1949)

 

Tan Malaka lahir dengan nama Ibrahim Simabua Datuak Sutan Malaka. Ia adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah pers dan pergerakan kemerdekaan Indonesia.

Bekerja sebagai guru, Tan Malaka mulai menulis propaganda sosial untuk para kuli perkebunan teh di Sumatra Timur, yang diterbitkan dalam media berjudul Deli Spoor.

Sebagai jurnalis, ia aktif mengekspos kesenjangan sosial antara kaum kapitalis dan pekerja, serta penderitaan rakyat kecil, melalui tulisan-tulisannya di surat kabar seperti Sumatera Post.

Karya-karya jurnalistiknya sering menyuarakan kritik terhadap sistem kolonial dan ketidakadilan ekonomi, menjadikannya figur yang vokal dalam memperjuangkan hak-hak pribumi.

Selain tulisan di pers, pria kelahiran 2 Juni 1897 ini juga menghasilkan karya penting seperti Tanah Orang Miskin, yang dimuat dalam Het Vrije Woord pada 1920, serta buku Naar de Republiek Indonesien (Menuju Republik Indonesia) pada 1924, yang kemudian menjadi salah satu fondasi ideologis terbentuknya Republik Indonesia. Karena pemikiran dan perjuangannya, Tan Malaka dijuluki sebagai “Bapak Republik Indonesia”. 

Beliau meninggal dunia pada 21 Februari 1949 di Selopanggung, Kediri, Jawa Timur. Ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 1963, meninggalkan warisan jurnalistik dan intelektual yang sangat berpengaruh dalam sejarah bangsa.


7.Mohammad Hatta (1902-1980)

 

Selain dikenal sebagai Wakil Presiden pertama Indonesia dan Proklamator Kemerdekaan, Mohammad Hatta juga aktif di bidang jurnalistik. 

Mohammad Hatta lahir pada 12 Agustus 1902 di Bukittinggi, Sumatra Barat.

Pada awal 1930-an saat menempuh pendidikan di Belanda, Hatta menulis berbagai artikel tentang politik dan ekonomi untuk harian Daulat Ra’jat (1931–1934), yang bertujuan memberikan analisis kritis dan edukasi bagi pembaca, tanpa memihak kekuatan Barat maupun Jepang.

Aktivitas jurnalistiknya tidak berhenti meski ia dipindahkan dari pengasingan di Boven Digoel pada 1934 ke Banda Neira, Papua, pada 1937. Di sana, selain mengurus pertanian, Hatta tetap menulis untuk beberapa surat kabar, termasuk Sin Tit Po (新直報), Nationale Commantaren, dan Pemandangan.

Melalui tulisan-tulisannya, Hatta berperan dalam membangun kesadaran rakyat tentang dinamika politik dan ekonomi yang terjadi di Indonesia dan dunia pada masa itu, menunjukkan bahwa pers bisa menjadi alat edukasi dan intelektual, bukan sekadar propaganda.

Mohammad Hatta wafat meninggal dunia pada 14 Maret 1980 di Jakarta, dan pada 1986 dianugerahi gelar Pahlawan Proklamator, bersama Presiden Soekarno, oleh Presiden Soeharto, sebagai pengakuan atas jasa-jasanya dalam perjuangan kemerdekaan dan pembangunan bangsa.

8. W.R Supratman (1903-1938)

Lagu Indonesia Raya ciptaan W.R Supratman diakui sebagai lagu Kebangsaan Indonesia pada peristiwa Sumpah Pemuda 1928. Lagu Indonesia Raya pertama kali diperkenalkan W.R Supratman pada saat Kongres Pemuda II dan menjadi tanda lehairan pergerakan nasionalisme di seluruh nusantara. 

Dilansir dari situs resmi Museum Sumpah Pemuda Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Wager Rudolf (W.R) Supratman lahir pada 19 Maret 1903 di Desa Somongarui, Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.

Keluarga Luruskan Sejarah

Namun dalam jumpa pers di Jakarta Barat, Rabu 14 Agustus 2024, pihak keluarga mengoreksi tanggal lahir WR Soepratman adalah 9 Maret 1903, bukan 19 Maret 1903.

Indra Hutabarat mewakili pihak keluarga meluruskan tempat dan tanggal lahir, status agama dan tempat meninggal WR Soepratman. ndra merupakan keluarga WR Soepratman dari garis keturunan Ngadini Soepratini, kakak kelima WR Soepratman. 

WR Soepratman, lanjut Indra, lahir di Jatinegara, Jakarta, bukan di Purworejo, Jawa Tengah. Ini berdasarkan kesaksian Roekiyem Soepratijah, kakak pertama WR Soepratman yang melihat langsung saat adiknya lahir.

Roekiyem menjadi sosok penting dalam perjalanan hidup dan karier WR Soepratman.

Setelah orang tua mereka meninggal pada 1914, WR Soepratman yang saat itu masih anak SD berusia 11 tahun tinggal bersama Roekiyem dan suaminya di Makassar, Sulawesi Selatan.

"Kami bisa menyampaikan tanggal lahirnya adalah 9 Maret 1903 di Jatinegara pada saat itu. Berdasarkan pengakuan langsung dari Ibu Roekiyem itu adalah kakak kandung pertama dari WR Soepratman yang menyaksikan kelahiran WR Soepratman di Jatinegara," jelasnya.

Indra mengatakan berdasarkan keterangan dari Roekiyem, WR Soepratman merupakan anak ke-7 dari sembilan bersaudara dan tidak menikah sehingga tidak memiliki keturunan kandung.

Dikatakan Indra, WR Soepratman merupakan seorang muslim. yang meninggal pada 17 Agustus 1938 dan dimakamkan secara Islam. Saat itu, Roekiyem turut hadir di pemakaman adiknya.  

Ayahnya, Sersan Jumeno Senen, sebagai seorang tentara KNIL segera mencatatkan kelahiran anaknya di Jatinegara, untuk kemudahan pencatatan sipil. Sehingga sampai sekarang banyak yang menuliskan bahwa tempat kelahiran W.R Supratman di Jatinegara.

Pendidikan Pendidikan Supratman berawal di Frobekschool (sekolah taman kanak-kanak) di Jakarta pada 1907, di usianya empat tahun. Setelah lulus, W.R Supratman tinggal bersama kakanya Roekijem dan melanjutkan sekolah di Makassar. Dirinya melanjutkan pendidikan di Tweede Inlandscheschool atau Sekolah Angka Dua dan lulus di tahun 1917.

Pada tahun 1919, W.R Supratman lulus ujian Klein Ambtenaar Examen (KAE, ujian untuk calon pegawai rendah) dan melanjutkan pendidikan di Mormaalschool (Sekolah Pendidikan Guru).

Karir W.R Supratman Kehalian W.R Supratman dalam bermusik tidak lepas dari peran kakak iparnay W.M Van Eldick. Olehnya, W.R Supratman diberikan biola saat ulang tahunnya ke-17 tahun. Bersama dengan kakak iparnya, Supratman mendirikan Grup Jazz bernama Black and White. Kepandaiannya bermusik, dimanfaatkan Supratman untuk menciptakan lagu-lagu perjuangan, termasuk Indonesia Raya.

Puncak karir W.R Supratman ketika pindah dari Makassar ke Bandung dan memulali karirnya menjadi jurnalistik. Dalam buku Kumpulan Pahlawan Indonesia (2012) oleh Mirnawati, W.R Supratman bekerja di surat kabar Kaoem Moeda dan Kaoem Kita. Meski sudah pindah ke Jakarta, W.R Supratman tetap menjalankan profesinya sebagai wartawan dan mulai tertarik dengan pergerakan nasional.

Dalam pergerakan nasional tersebut, W.R Supratman berkenalan dengan tokoh-tokoh pergerakan dan menulis buku dengan juduk Perawan Desa. Namun, buku tersebut dilarang beredar oleh kolonial Belanda. Hal ini karena buku tersebutberisi kebencian W.R Supratman terhadap penjajahan pemerintahan Belanda.

Biola WR Supratman yang menjadi ikon Museum Sumpah Pemuda

 

Lagu Indonesia Raya

Pada saat masih di Makassar, W.R Supratman membaca sebuah karangan di majalah Timbul. Dalam artikel tersebut untuk menantang para ahli musik Indonesia untuk menciptakan lagu kebangsaan. Pada tahun 1924, lagu Indonesia Raya tercipta di Bandung saat usianya meninjak 21 tahun. Kemudian 28 Oktiber 1928, lagu Indonesia Raya diperdengarkan secara instrumental dalam Kongres Pemuda II.

Lagu tersebut dijadikan lambang persatuan dan kesatuan rakyat Indonesia untuk berjuang memperebutkan kemerdekaan. Akibat lagu tersebut, W.R Supratman selalu diburu oleh polisi Hindia Belanda hingga ke Kota Surabaya.

Akhir hayat Lagu terakhir yang diciptakan W.R Supratman berjudul Matahari Terbit pada awal Agustus 1938.

W.R Supratman akhirnya ditangkap ketika menyiarkan lagu tersebut bersama pandu-pandu NIROM di Surabaya dan ditahan di Penjara Kalisosok.

Sebelum merasakan kemerdekaan Indonesia, W.R Supratman wafat pada tanggal 17 Agustus 1938.
Untuk mengenang jasa besarnya, pemerintah Indonesia memberikan gelar Pahlawan NIndonesia pada tanggal 20 Mei 1971 dengan Keppres No.16/TK/1971.


9. Djamaluddin Adinegoro (1904-1967)


Djamaluddin Adinegoro, sastrawan dan wartawan terkemuka Indonesia, lahir di Talawi, Sawahlunto, Sumatera Barat pada 14 Agustus 1904. 

Djamaluddin Adinegoro awalnya menempuh pendidikan kedokteran di STOVIA. Namun, kecintaannya pada dunia tulis-menulis membawanya beralih ke jurnalistik. Karena aturan STOVIA melarang mahasiswa menulis, ia menggunakan inisial “DJ” dan kemudian pseudonim “Adinegoro” untuk menarik minat pembaca dari kalangan Jawa.

Adinegoro memutuskan berhenti dari STOVIA dan pergi ke Eropa untuk memperdalam ilmu jurnalistik. Selama di sana, ia tetap produktif menulis, menghasilkan artikel-artikel untuk surat kabar seperti Pewarta Deli dan Bintang Timoer, yang kemudian dikompilasi menjadi buku Melawat ke Barat yang diterbitkan Panji Pustaka pada 1930.

Setelah kembali ke Indonesia pada 1931, Adinegoro sempat bekerja di Balai Pustaka sebelum pindah ke Medan, Sumatra Utara, untuk memimpin redaksi Pewarta Deli. Di bawah kepemimpinannya, surat kabar ini berkembang pesat dan menjadi media yang berpengaruh hingga masa pendudukan Jepang pada 1942.

Pada 1948, ia ikut mendirikan majalah mingguan Mimbar Indonesia, yang dikenal luas, terutama ketika memberitakan Konferensi Meja Bundar di Den Haag pada 1949 saat Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia. Selanjutnya, pada 1951, Adinegoro mengepalai Yayasan Pers Biro Indonesia (PIA) dan hingga akhir hayatnya mengabdi di LKBN Antara.

Djamaluddin Adinegoro bersama Presiden Soekarno
 

Beliau meninggal dunia di Jakarta pada 8 Januari 1967 dalam usia 62 tahun. Ia dikenal sebagai pelopor jurnalisme dan sastra Indonesia.

Dedikasinya untuk kemajuan jurnalistik Indonesia diabadikan melalui Anugerah Adinegoro, yang sejak 1974 menjadi penghargaan tertinggi bagi wartawan di Indonesia.


10.Buya Hamka (1908-1981) 

 

Prof. Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah atau yang lebih dikenal sebagai Buya Hamka, adalah sosok serba bisa. Ia merupakan novelis ternama, pemuka Muhammadiyah, ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), sekaligus jurnalis. 

Buya Hamka lahir pada 17 Februari 1908 di Tanah Sirah, Nagari Sungai Batang, Sumatra Barat.
Karya-karya novelnya seperti Tenggelamnya Kapal Van der Wijck (1938) dan Di Bawah Lindungan Ka'bah (1938) menjadikannya ikon sastra Indonesia, namun kiprah jurnalistiknya juga patut diacungi jempol. Setelah menunaikan ibadah haji pada 1927, Hamka pulang ke Medan dan mulai menulis pengalamannya di surat kabar Pelita Andalas.

Selain itu, ia aktif menulis artikel keagamaan dan sosial di berbagai media, termasuk Seruan Islam, Suara Muhammadiyah, dan Bintang Islam, sambil tetap mengabdi sebagai guru.

Buya Hamka dikenal memadukan keilmuan agama dengan kepedulian sosial, menggunakan tulisan sebagai sarana pendidikan dan pembinaan masyarakat. Dedikasinya pada pers dan pendidikan Islam berlangsung sepanjang hidup, hingga beliau melepaskan jabatan sebagai Ketua MUI pada Mei 1981.

Dua bulan kemudian, Ulama, sastrawan, dan ketua pertama MUI ini meninggal dunia pada 24 Juli 1981 di Jakarta pada usia 73 tahun. Beliau dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan.

Sekitar tiga dekade kemudian, pada 2011, Buya Hamka resmi dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional, menegaskan perannya sebagai figur penting dalam dunia jurnalistik, pendidikan, dan sastra Indonesia.

11.Abdurrahman Baswedan (1908-1986)

Abdurrahman Baswedan (A.R. Baswedan) adalah Pahlawan Nasional Indonesia yang lahir di Surabaya, Jawa Timur pada 9 September 1908. 

Abdurrahman Baswedan dikenal luas sebagai diplomat ulung yang berhasil memperjuangkan pengakuan kemerdekaan Indonesia dari Mesir. Namun, perannya sebagai jurnalis juga sangat menonjol. Fasih dalam empat bahasa, Baswedan termasuk 111 perintis pers nasional, yang tanpa pamrih mengabdikan diri untuk kemerdekaan dan pers Indonesia.

Karier jurnalistiknya dimulai di Sin Tit Po pada 1932 dengan upah 75 gulden, namun ia rela berpindah ke Soeara Oemoem milik Dr. Soetomo dengan hanya 15 gulden, dan kemudian ke Matahari pada 1934 dengan upah 120 gulden, demi mengutamakan tujuan perjuangan nasional di atas materi.

Sebagai keturunan Arab-Indonesia, Baswedan memanfaatkan tulisan dan suaranya untuk menyatukan komunitas Arab dalam mendukung kemerdekaan. Salah satu kiprah pentingnya adalah memimpin Sumpah Pemuda Keturunan Arab di Semarang pada 1934, yang menegaskan solidaritas dan semangat nasionalisme. 

H. Abdurrahman Baswedan meninggal dunia di Jakarta pada 16 Maret 1986 dalam usia 77 tahun, dan baru pada 2018 ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Joko Widodo sebagai penghargaan atas dedikasi dan jasanya dalam pers, diplomasi, dan perjuangan kemerdekaan.

12. Sayuti Melik (1908-1989)

 

Mohamad Ibnu Sayuti atau Sayuti Melik lahir di Sleman, Yogyakarta, 22 November 1908. Sayuti Melik adalah putra dari Abdul Muin alias Partoprawito, seorang kepala desa di Sleman, dan Sumilah.

Sejak kecil, Sayuti Melik telah diajarkan rasa cinta tanah air dan nasionalisme oleh ayahnya. Saat itu, ayahnya menentang kebijaksanaan pemerintah Belanda yang menggunakan sawahnya untuk ditanami tembakau. Karena kebijakan Belanda terus merugikan rakyat, Sayuti Melik pun tumbuh menjadi seseorang yang ingin memperjuangkan kemerdekaan agar Indonesia bisa terlepas dari penjajahan Belanda.

Sayuti memulai pendidikannya di Sekolah Ongko Loro yang setingkat Sekolah Dasar di Desa Srowolan hingga kelas 6. Kemudian, ia melanjutkan pendidikan hingga mendapat Ijazah di Yogyakarta. Sayuti Melik melanjutkan pendidikannya ke Sekolah Guru di Solo.

Ia pun menikah dengan Soerastri Karma Trimurti, seorang aktivis perempuan dan wartawati. Namun tak lama kemudian, Sayuti Melik ditangkap Belanda karena dicurigai tergabung dalam kegiatan politik. Semenjak saat itu, Sayuti Melik lebih sering belajar mandiri atau belajar sendiri.

Setelah Indonesia merdeka, Sayuti Melik memutuskan untuk kuliah di Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Indonesia. Namun, ia hanya berkuliah dalam waktu yang singkat, sehingga tidak mendapat gelar.

Peran Sayuti Melik dalam Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Dilansir dari situs Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Sayuti Melik turut menjadi saksi penyusunan naskah proklamasi kemerdekaan.

Penyusunan naskah proklamasi ini terjadi di ruang makan rumah Laksamana Maeda, tentara Jepang yang mendukung kemerdekaan Indonesia. Dalam hal ini, Sayuti Melik mewakili golongan pemuda bersama Sukarni.

Saat proses penyusunan naskah proklamasi, Sayuti Melik didampingi Burhanudin Muhammad Diah. membantu Ir. Soekarno. Sedangkan Mohammad Hatta dibantu oleh Sukarni.

Setelah usulan tersebut, Sukarni mengumumkan jika naskah proklamasi hanya perlu ditandatangani oleh Soekarno dan Hatta untuk mewakili seluruh rakyat Indonesia.

Usulan Sayuti Melik pun diterima oleh tokoh-tokoh lainnya. Ditemani oleh B.M, Diah (mantan Menteri Penerangan RI), Sayuti Melik mengetik naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di dekat dapur rumah Laksamana Maeda.

Pada 1946, Sayuti Melik ditangkap oleh Pemerintah Indonesia atas perintah Mr. Amir Syarifudin.
Penangkapan ini terjadi karena Sayuti Melik dianggap ikut serta dalam 'Persatuan Perjuangan'.
'Persatuan Perjuangan' adalah organisasi bentukan Tan Malaka yang ingin menggulingkan kabinet Sutan Sjahrir yang dinilai tidak memuaskan. Kemudian, pada 3 Juli 1946, Sayuti Melik dinyatakan tidak bersalah.

Sayuti Melik ditangkap Belanda saat terjadi Agresi Militer II dan dipenjara di Ambarawa. Kemudian, ia dibebaskan setelah Konferensi Meja Bundar selesai dilakukan.

Pada tahun 1950, Sayuti Melik diangkat menjadi anggota politik MPRS dan DPR-GR dan menjadi Wakil Cendekiawan.

Pada masa Orde baru, Sayuti bergabung dengan Golkar dengan menjadi anggota MPR/DPR tahun 1971 dan 1977.

Sayuti pernah menerima Bintang Mahaputra Tingkat V pada 1961 dari Presiden Soekarno dan Bintang Mahaputra Adipradana II dari Presiden Soeharto 1973.
Sayuti Melik juga memperoleh penghargaan bintang Mahaputra Adipradana II Dari Presiden Soeharto pada tahun 1973.

Pada tahun 1961 - 1982 Sayuti Melik menerima berbagai penghargaan presiden di bidang jurnalistik.

Sebagai seorang jurnalis, Sayuti Melik berjasa mewakili Indonesia sebagai wartawan ke Eropa Barat, Eropa Timur, Amerika Serikat, Australia, dan banyak negara lainnya.

Sayuti Melik sebagai salah satu pahlawan nasional Indonesia meninggal dunia pada tanggal 27 Februari 1989. Ia kemudian dimakamkan di taman pemakaman pahlawan Kalibata Jakarta.
 

13. S.K Trimurti (1912-2008)

Surastri Karma Trimurti, yang lebih dikenal sebagai S.K. Trimurti, adalah salah satu wartawati dan aktivis pergerakan nasional yang berani dan cerdik. 

S.K. Trimurti  lahir di Boyolali, Jawa Tengah, pada 11 Mei 1912, awalnya berprofesi sebagai guru.

Trimurti tertarik pada dunia jurnalistik setelah pengalamannya dipenjara di Blitar hingga 1943 karena dianggap menyebarkan propaganda. Minatnya semakin berkembang setelah sering mendengar pidato Soekarno, yang menginspirasinya untuk menulis di berbagai media seperti Suluh Indonesia dan Berdjoang.

Dikenal sebagai jurnalis yang kritis terhadap imperialisme dan penindasan, Trimurti sering menggunakan variasi nama “Trimurti” atau “Karma” agar tetap aman dari pengawasan kolonial.

Sejak 1935, ia aktif menerbitkan dan mengelola berbagai majalah serta surat kabar, termasuk Bedug, Terompet, Suara Marhaeni, dan Pesat. Bersama suaminya, Sayuti Melik, Trimurti mendirikan majalah mingguan Pesat pada 1938, yang kemudian ditutup pada masa penjajahan Jepang, di mana Trimurti mengalami tekanan dari otoritas Jepang.

Setelah Indonesia merdeka, ia tetap berkiprah dalam pemerintahan sebagai Menteri Tenaga Kerja pertama pada 1947–1948, dan menolak jabatan Menteri Sosial pada 1959 untuk fokus melanjutkan studinya.

Trimurti meninggal dunia di Jakarta pada 20 Mei 2008 dalam usia 96 tahun, dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Ia adalah pejuang kemerdekaan, jurnalis perempuan, serta Menteri Perburuhan pertama Indonesia yang warisannya di bidang jurnalistik diabadikan melalui S.K. Trimurti Awards, yang diberikan sejak 2008 kepada jurnalis dan aktivis perempuan yang menonjol. Sosoknya tetap menjadi simbol keberanian dan integritas dalam jurnalisme Indonesia.


14. B.M Diah (1917-1996) 


Burhanuddin Mohammad Diah atau yang lebih dikenal sebagai BM Diah, adalah salah satu tokoh pers, pejuang kemerdekaan, diplomat, dan pengusaha nasional. Ia memiliki peran penting dalam sejarah Indonesia, termasuk berjasa menyelamatkan naskah asli Proklamasi Kemerdekaan yang sempat dibuang setelah diketik oleh Sayuti Melik.

Burhanuddin Mohammad Diah (B.M. Diah), seorang tokoh pers dan pejuang kemerdekaan Indonesia, lahir di Kutaraja (sekarang Banda Aceh) pada 7 April 1917.

Sejak usia 17 tahun, BM Diah merantau ke Jakarta untuk menekuni dunia jurnalistik di Ksaatriaan Instituut, dan memulai kariernya sebagai redaktur di Harian Sinar Deli serta sejumlah media lain.
Pada masa pendudukan Jepang, ia bekerja sebagai penyiar bahasa Inggris di Radio Hosokyoku dan Asia Raja, tetap produktif dalam menyebarkan informasi walau dalam situasi yang penuh tekanan. Setelah Indonesia merdeka, BM Diah mengambil alih percetakan Djawa Shimbun milik Jepang dan pada 1 Oktober 1945 mendirikan Harian Merdeka, yang dipimpinnya hingga akhir hayatnya.

Selain itu, ia juga menerbitkan Indonesian Observer, koran berbahasa Inggris yang memperluas jangkauan informasi Indonesia ke dunia internasional. 

Beliau meninggal dunia di Jakarta pada usia 79 tahun, tepatnya pada 10 Juni 1996. Melalui dedikasi panjangnya dalam jurnalistik, BM Diah menjadi figur penting yang menghubungkan perjuangan kemerdekaan, pembangunan bangsa, dan perkembangan pers modern di Indonesia.


15. Herawati Diah (1917-2016)

Siti Latifah Herawati Latip, yang lebih dikenal sebagai Herawati Diah, lahir 3 April 1917, adalah tokoh jurnalis perempuan modern Indonesia yang mengawali kariernya sejak masih menempuh pendidikan di Amerika Serikat. 

Sambil belajar, ia menulis untuk majalah Doenia Kita, yang didirikan oleh ibunya, menunjukkan bakat jurnalistiknya sejak muda.

Setelah kembali ke Indonesia pada 1942, Herawati bekerja sebagai wartawan lepas di United Press International (UPI) dan menjadi penyiar di Radio Hosokyoku. Pada tahun yang sama, ia menikah dengan Burhanuddin Mohammad Diah, yang saat itu menjadi asisten editor di Asia Raja.

Bersama suaminya, Herawati mengembangkan harian Merdeka pada 1945 dan kemudian mendirikan The Indonesian Observer pada 1955, yang menjadi surat kabar berbahasa Inggris pertama di Indonesia dan debutnya bertepatan dengan Konferensi Asia Afrika di Bandung.


Di samping kiprah jurnalistik, Herawati aktif memperjuangkan hak-hak perempuan dan ikut mendirikan Komnas Perempuan. Ia juga memimpin majalah Merdeka Mingguan dan Keluarga, memperkuat pengaruhnya sebagai perempuan di dunia pers.

Herawati Diah wafat pada 30 September 2016 pada usia 99 tahun, meninggalkan warisan besar sebagai pionir pers dan advokat hak perempuan di Indonesia dan mendapat gelar Tokoh Nasional.


16. Ani Idrus (1918-1999)

 


Ani Idrus adalah wartawati senior legendaris yang lahir di Sawah Lunto, Sumatera Barat, 25 Nov 1918.
Ia bersama suaminya, H. Mohammad Said mendirikan Harian Waspada pada tahun 1947 dan menjadi salah satu tokoh penting dalam perkembangan pers modern di Tanah Air.

Karier jurnalistiknya dimulai sejak 1930 di Majalah Panji Pustaka. Sejak saat itu, ia aktif menulis, menerbitkan majalah dan memimpin beberapa media.

Ani terakhir menjabat sebagai Pemimpin Umum dan Pemimpin Redaksi Harian Waspada serta Majalah Dunia Wanita di Medan, yang memperkuat pengaruhnya dalam dunia pers pasca kemerdekaan.

Selain kiprah jurnalistik, Ani juga berperan besar dalam pendirian Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dan aktif dalam pendidikan melalui Yayasan Pendidikan Ani Idrus. Ia bahkan menjabat Ketua Umum Sekolah Sepak Bola Waspada, Direktur PT Prakarsa Abadi Press, dan Ketua Yayasan Asma Cabang Sumatera Utara, menunjukkan dedikasi yang luas untuk masyarakat dan pendidikan. 

Ani Idrus tetap aktif hingga usia lanjut dan menerima berbagai penghargaan, termasuk Satya Penegak Pers Pancasila pada 1988. Ia wafat di Medan, Sumatera Utara, 9 Januari 1999  dan dimakamkan di Pemakaman Umum Jalan Thamrin, Medan, meninggalkan warisan besar sebagai pionir jurnalisme perempuan dan tokoh pers Indonesia.


17. Mochtar Lubis (1922-2004)

 

Mochtar Lubis, pengarang cerita pendek "Kuli Kontrak" ini, lahir dari keluarga Pamong Praja, pada tanggal 7 Maret 1922 di Padang, Sumatera Barat. Ia adalah seorang sastrawan, wartawan, pelukis, pembuat keramik, penanam anggrek dan penerbit.

Ia pernah bekerja sebagai wartawan Antara, wartawan Merdeka, majalah Mutiara, Mingguan Masa dan Harian Indonesia Raya sampai tahun 1974, kemudian menjadi penanggung jawab majalah Horison (sejak tahun 1966), Direktur Yayasan Obor dan anggota Akademi Jakarta sejak tahun 1970 untuk seumur hdup.

Pernah pula menjabat sebagai Presiden Press Foundation of Asia, anggota dewan pimpinan International Press Institute, anggota dewan pimpinan International Association for Cultural Freedom dan anggota Federation Mondial pour sur le Futur.

Sejak jaman Jepang, Mochtar Lubis telah mulai aktif di bidang pers. Di zaman revolusi, sebagai anak muda Mochtar menghapi dua pilihan: masuk militer atau menjadi wartawan. Dia mengambil pilihan yang kedua. Koran yang didirikan dan dipimpinnya, Indonesia Raya dibrendel oleh Orde Lama maupun Orde Baru, sehingga ia terpaksa meringkuk dalam tahanan.

Mochtar Lubis meliput Perang Korea (1951), dan disamping laporan jurnalistik yang ditulisnya mengenai perang itu (Catatan dari Korea, 1952), beberapa cerpen lahir pula sebagai hasil pengalamannya di medan pertempuran itu. Buku Jurnalistiknya yang lain adalah Berkelana di Asia Tenggara.

Mochtar Lubis adalah salah satu jurnalis dan sastrawan paling berpengaruh di Indonesia, yang kiprahnya dimulai sejak masa pendudukan Jepang. Ia memainkan peran penting dalam dunia pers nasional, antara lain dengan mendirikan harian Indonesia Raya dan aktif di Kantor Berita Antara.

Sebagai jurnalis kritis, tulisan-tulisannya sering menentang ketidakadilan dan penyalahgunaan kekuasaan, sehingga Indonesia Raya sempat dibredel oleh pemerintah. Selain itu, pria kelahiran 7 Maret 1922 tersebut juga mendirikan majalah sastra Horizon, yang menjadi wadah bagi karya-karya intelektual dan sastra Indonesia pada masa itu.

Pada masa pemerintahan Soekarno, Mochtar Lubis dipenjara hampir sembilan tahun karena tulisan-tulisannya yang vokal dan kritis terhadap pemerintah. Pengalaman tersebut ia tuangkan dalam buku Catatan Subversif (1980), yang menjadi dokumen penting sejarah pers Indonesia.

Selain sebagai wartawan, Lubis dikenal pula sebagai novelis berbakat dengan karya-karya terkenal seperti Harimau, Harimau!, Senja di Jakarta, dan Jalan Tak Ada Ujung, yang menggabungkan kritik sosial dengan kekayaan naratif. Dedikasinya dalam pers dan sastra menegaskan perannya sebagai salah satu pilar jurnalistik dan intelektual modern Indonesia.

Mochtar Lubis meninggal dunia di Jakarta pada 2 Juli 2004.


18. Jakob Oetama (1931-2020)

Dr (HC) Jakob Oetama lahir pada 27 September 1931 di Desa Jowahan, Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.

Om JO  adalah putra seorang pensiunan guru di Sleman, Yogyakarta. Setelah lulus SMA (Seminari) di Yogyakarta, ia pernah mengajar di SMP Mardiyuwana (Cipanas, Jawa Barat) dan SMP Van Lith Jakarta.

Om JO pernah  studi di Perguruan Tinggi Publisistik Jakarta dan Fakultas Sosial Politik UGM Yogyakarta. Bersama P.K. Ojong, ia mengelola majalah Intisari pada tahun 1963, yang mungkin diilhami majalah Reader’s Digest dari Amerika.

Tahun 1965, bersama Ojong, Jacob mendirikan harian Kompas, dan dikelolanya hingga kini. Om JO juga merupakan Pendiri dan Anggota Dewan Kantor Berita Nasional Indonesia.

Beliau meninggal pada Rabu, 9 September 2020, dalam usia 88 tahun.

Demikian beberapa tokoh Jurnalis Indonesia yang juga sebagian besar ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.[]

Posting Komentar

0 Komentar